Harga Ayam Naik Tipis, BI Perkirakan Inflasi 0,02 Persen Awal Oktober

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pembeli memilih ayam potong di Pasar Kosambi, Bandung (22/8). Harga ayam potong naik menjadi Rp 25 ribu sampai Rp 26 ribu/kg, pada hari pertama puasa. Foto: TEMPO/Prima Mulia

    Seorang pembeli memilih ayam potong di Pasar Kosambi, Bandung (22/8). Harga ayam potong naik menjadi Rp 25 ribu sampai Rp 26 ribu/kg, pada hari pertama puasa. Foto: TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan survei pemantauan harga sampai minggu pertama Oktober, menunjukkan sedikit kenaikan harga. Karena itu, dia memperkirakan terjadi inflasi 0,02 persen secara month to month.

    "Sehingga kalau year on year-nya 3,13 persen. Jadi kalau kita bandingkan di bulan September dari BPS terjadi deflasi minus 2,7 dan yoy-nya adalah 3,39 persen," kata Perry di Masjid Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019.

    Dari survei yang dilakukan di seluruh kantor cabang BI, Perry melihat, beberapa harga yang mengalami kenaikan relatif kecil. Seperti kata dia, harga daging ayam daging ayam inflasi 0,03 persen, tomat sayur 0,01 persen.

    Sementara, kata dia, masih terdapat beberapa harga yang menurun. Dia mencatat cabai merah masih deflasi 0,07 persen, cabai rawit deflasi 0,03 persen,  bawang merah 0,02 persen dan ayam ras  deflasi 0,03 persen.

    "Jadi yang pertama saya sampaikan harga harga tetap terkendali sampai bulan September Oktober ini," ujarnya.

    Dengan begitu, dia berharap akhir tahun inflasi akan sesuai perkiraan BI di bawah titik tengah sasaran 3,5 persen. "Hal itu menunjukkan inflasi yang terjaga dan terkendali," ujar Perry.

    Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan terjadinya deflasi tersebut bukan dikarenakan adanya menurunnya tingkat daya beli masyarakat. Dia menjelaskan deflasi terjadi lebih dikarenakan berbagai harga komoditas yang secara umum menunjukkan penurunan.

    "Tadi sudah saya sampaikan bahwa deflasi terjadi karena penurunan harga barang-barang bergejolak, tidak ada penurunan daya beli," kata Suhariyanto ketika mengelar konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa 1 Oktober 2019.

    Indikasi tersebut terlihat dari beberapa komponen inflasi yakni core inflation atau inflasi inti yang tercatat masih mengalami kenaikan (inflasi) 0,29 secara bulanan. Menurut BPS inflasi inti merupakan komponen inflasi yang pergerakannya cenderung tetap. Selain itu, inflasi inti bisa pula dimaknai sebagai perubahan harga barang dan jasa di luar sektor makanan dan energi.

    Suhariyanto menjelaskan deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok bahan makanan sebesar 1,97 persen. Sedangkan, komponen komoditas dominan yang ikut andil dalam deflasi adalah cabai merah yang sumbang deflasi 0,19 persen, bawang merah 0,07 persen.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?