Rupiah Menguat Menyusul Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar AS di lokasi penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, 28 Maret 2018. Kurs rupiah menyentuh posisi Rp13.745 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu (28/3/2018). TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar AS di lokasi penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, 28 Maret 2018. Kurs rupiah menyentuh posisi Rp13.745 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu (28/3/2018). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Jumat, 4 Oktober 2019, menguat menjadi Rp 14.137 per dolar AS menyusul spekulasi pasar terhadap The Fed yang akan memangkas suku bunga.

    "Laporan data ekonomi Amerika Serikat yang lemah telah memicu spekulasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan The Fed," kata Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat.

    Terpantau, rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi, bergerak menguat sebesar 36 poin atau 0,25 persen menjadi Rp 14.137 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp 14.173 per dolar AS.

    Ariston mengemukakan indeks manufaktur AS yang dirilis oleh Institute for Supply Management (ISM) mengalami kontraksi ke level 47,8 di bulan September. Setiap angka di bawah level 50 memberi sinyal kontraksi.

    Sedangkan, indeks nonmanufaktur dari ISM di level 52,6 untuk periode September. Sebelumnya para ekonom memperkirakan di level 55,3.

    Sementara itu, Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan jumlah tenaga kerja di sektor swasta di Amerika Serikat di bulan September hanya meningkat 135.000, sedikit lebih rendah dari estimasi pasar untuk kenaikan 140.000.

    Selanjutnya, ia mengatakan fokus pasar akan tertuju pada rangkaian data tenaga kerja AS lainnya, di antaranya laporan "NonFarm Payroll". Bila hasil yang dilaporkan turun dari data bulan sebelumnya, maka spekulasi pemangkasan suku bunga acuan AS semakin kuat di pasar.

    "Pada akhir Oktober ini, sedianya the Fed akan melaksanakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), kebijakan suku bunga akan menjadi sorotan," katanya.

    Direktur Utama Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi menambahkan Bank Indonesia yang diperkirakan masih melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi dalam perdagangan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) turut menopang rupiah.

    DNDF merupakan transaksi derivatif valuta asing (valas) terhadap rupiah yang standar (plain vanilla) berupa transaksi forward (berjangka) dengan mekanisme fixing yang dilakukan di pasar domestik.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.