2 Hal yang Dinilai Perlu Dimiliki RI Hadapi Industri 4.0

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberikan sambutannya dalam acara Milenial Indonesia dalam Ekonomi Kreatif di Era Revolusi Industri 4.0 yang digelar Perhimpunan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia di Kemayoran, Jakarta, Rabu 3 April 2019. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberikan sambutannya dalam acara Milenial Indonesia dalam Ekonomi Kreatif di Era Revolusi Industri 4.0 yang digelar Perhimpunan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia di Kemayoran, Jakarta, Rabu 3 April 2019. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Minister President of the German Federal State of Lower Saxony (Negara Bagian Lower Saxony Republik Federal Jerman), Stephan Weil, menilai Indonesia membutuhkan sumber daya manusia (SDM) terlatih dan infrastruktur yang baik untuk menjalankan Revolusi Industri 4.0 di seluruh wilayahnya.

    "Menurut saya, Indonesia perlu sumber daya manusia yang terlatih dan sarana infrastruktur yang sangat baik. Dua hal mendasar ini yang dibutuhkan Indonesia untuk menjalankan Revolusi Industri 4.0 di seluruh wilayahnya," ujar Stephan Weil di Jakarta, Kamis malam, 3 Oktober 2019.

    Dia menjelaskan bahwa pada kenyataannya di Jerman maupun di negara-negara lainnya sedang menjalani proses menuju penerapan Revolusi Industri 4.0 dan belum mencapai pada bagian akhir dari penerapan Industri 4.0 tersebut.

    "Saya memahami strategi yang diputuskan oleh para pembuat keputusan di Indonesia terkait Indonesia 4.0, menjadikan Indonesia sebagai bagian dari pergerakan industri global dan saya pikir perhelatan Hannover Messe merupakan ajang yang tepat untuk membuat komitmen seperti ini," katanya.

    Hannover Messe merupakan perhelatan pameran dagang terkemuka di dunia untuk teknologi industri terkini seperti Industri 4.0 yang rencananya berlangsung di Jerman pada 20-24 April 2020. Pameran itu menghadirkan lebih dari 6.500 peserta dari pelaku industri terkemuka di seluruh dunia yang berasal dari sekitar 73 negara.

    Setiap tahunnya, pameran ini dikunjungi lebih dari 225 ribu orang dari sekitar 91 negara dan menghasilkan sekitar 5,6 juta kontak bisnis. Sebagai negara mitra resmi, Indonesia akan menempati Central Pavilion seluas 1.300 meter persegi dan beberapa Paviliun Satelit yang bersifat tematik.

    Dalam kesempatan yang sama, Chairman of Managing Board Deutsche Messe AG Jochen Kockler sebagai penyelenggara Hannover Messe menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk bisa mengimplementasikan Revolusi Industri 4.0 mengingat Indonesia memiliki jumlah populasi masyarakat produktif yang terus bertambah.

    ANTARA

    "Ketika para pelaku bisnis serta industri Indonesia menjalin kerjasama dengan pelaku industri Jerman, maka ini momentum yang pas untuk menggabungkan pengalaman Jerman dalam bidang industri dan populasi masyarakat produktif Indonesia yang banyak untuk melakukan investasi seperti membangun pabrik dan menerapkan teknologi guna menopang pekerjaan yang bersifat berkelanjutan dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan," ujarnya.

    Terkait peluang investasi di Indonesia, Minister President of the German Federal State of Lower Saxony yakni Stephan Weil menilai terdapat banyak peluang investasi dalam berbagai sektor di Indonesia seperti sektor energi terbarukan yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia, mengingat masalah perubahan iklim global di seluruh dunia.

    Contoh peluang investasi lainnya adalah tantangan Indonesia dalam sektor pengelolaan limbah atau sampah di Jakarta, di mana Indonesia membutuhkan industri pengelolaan sampah yang canggih untuk mendaur ulang sampah atau limbah.

    "Dengan demikian terdapat peluang investasi yang cerah di Indonesia," ujar Stephan Weil.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.