Laut Tercemar Limbah BBM, Produksi Rumput Laut di Nunukan Turun

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang ibu menjemur rumput laut di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu, 18 September 2019. Rumput laut menjadi mata penghasilan tambahan bagi warga di pulau tersebut. TEMPO/Tony Hartawan

    Seorang ibu menjemur rumput laut di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu, 18 September 2019. Rumput laut menjadi mata penghasilan tambahan bagi warga di pulau tersebut. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Nunukan - Pembudidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mengeluhkan pencemaran air laut yang membuat produksi anjlok sejak awal tahun ini.

    Menurut Kamaruddin, salah seorang pembudidaya rumput laut, belum ada tindakan tegas dari aparat hukum terkait dugaan pencemaran air laut karena limbah bahan bakar minyak (BBM) jenis oli.

    "Padahal kejadian ini telah berlangsung sejak Januari 2019 hingga saat ini yang menyebabkan rumput laut berubah warna sehingga rusak dan cepat patah dari talinya," kata dia seperti yang dilansir dari Antara, Kamis 3 Oktober 2019.

    Kamaruddin tidak menuding limbah atau tumpahan oli berasal dari perusahaan terdekat atau ada kesengajaan dari oknum-oknum tak bertanggung jawab.

    Dia meminta kesadaran oknum atau perusahaan agar membuang limbah pada tempatnya agar tidak merusak rumput laut yang bertebaran di laut.

    Akibat limbah BBM inilah, kata dia, rumput laut banyak yang berubah warna menjadi putih dan hitam mirip terbajar dan dicat.

    Kondisi ini membuat petani rumput laut mengurangi jumlah bentangan tali agar tidak rugi besar.

    "Pengurangan bentangan tali tersebut dipastikan menurunkan produksi setiap masa panen," ujar dia.

    Ia berharap perusahaan atau nelayan lainnya agar tidak membuang bekas BBM di laut.

    Kamarudin memperkirakan produksi rumput laut di Kabupaten Nunukan turun 40 persen dari total produksi 3.000 ton tiap bulan sejak adanya tumpahan BBM bekas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.