Ekonomi Global Tak Pasti, IHSG Melemah

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta pada Kamis bergerak melemah di tengah kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi global.

    IHSG dibuka melemah 22,39 poin atau 0,37 persen menjadi 6.033,02. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak turun 6,35 poin atau 0,67 persen menjadi 935,38.

    "Ketidakpastian ekonomi global yang mengancam potensi gagal bayar utang perusahaan-perusahaan Indonesia serta bursa saham eksternal yang kembali jatuh kembali menjadi pemicu investor melakukan aksi lepas saham sehingga menekan IHSG," kata Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019.

    Ketidakpastian global itu, lanjut dia, membuat pemerintah mengimbau setiap perusahaan di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan agar mencegah risiko gagal bayar yang tinggi, sebab adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di tengah krisis global.

    "Pemerintah diharapkan terus melakukan monitoring secara terus menerus kepada para BUMN dalam upaya mencegah terjadinya gagal bayar, menyusul lembaga pemeringkat Moody’s yang menyatakan berbagai perusahaan di Indonesia dan negara Asia Pasifik berisiko gagal bayar," katanya.

    Ia menilai pernyataan yang dikeluarkan Moody’s itu dapat menjadi peringatan dini dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan di perusahaan untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap perubahan kondisi ekonomi.

    Menurut dia, krisis global harus membuat perusahaan-perusahaan mengubah asumsinya supaya tetap bisa mencetak keuntungan. Dari eksternal, Alfiansyah mengatakan perang dagang Amerika Serikat dan China juga masih berlanjut dan belum menunjukkan tanda-tanda kesepakatan, kendati eskalasinya cenderung berkurang.

    Kendati demikian ia mengatakan bahwa isu yang muncul di Amerika Serikat mengenai pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump bisa memberi dampak positif bagi pasar, karena selama ini Trump kerap memberikan pernyataan kontroversi bagi pasar saham global.

    Sementara itu, bursa regional antara lain Indeks Nikkei melemah 471,35 poin (2,16 persen) ke 21,307,25, Indeks Hang Seng melemah 214,07 poin (0,82 persen) ke 25.828,61, dan Indeks Straits Times melemah 25,75 poin (0,83 persen) ke posisi 3.077,70.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.