Kata Arsitek, Soal Tren Selera Hunian Generasi Milenial

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pembangunan rumah susun terintegrasi dengan sarana transportasi atau 'Transit Oriented Development' (TOD) di samping Stasiun Kereta Api (KA) Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Kamis 13 Juni 2019. Pembangunan hunian TOD Tanjung Barat hasil kerja sama PT KAI dan Perum Perumnas tersebut diharapkan dapat menjadi solusi penyediaan perumahan sekaligus upaya mengurangi kemacetan di Jakarta. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    Suasana pembangunan rumah susun terintegrasi dengan sarana transportasi atau 'Transit Oriented Development' (TOD) di samping Stasiun Kereta Api (KA) Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Kamis 13 Juni 2019. Pembangunan hunian TOD Tanjung Barat hasil kerja sama PT KAI dan Perum Perumnas tersebut diharapkan dapat menjadi solusi penyediaan perumahan sekaligus upaya mengurangi kemacetan di Jakarta. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ariko Andikabina mengatakan generasi milenial lebih menyukai konsep hunian yang praktis. Yakni hunian yang terintegrasi dengan akses transportasi atau transit oriented development (TOD).

    Selain itu, pasar tersebut juga menyukai konsep hunian yang efisien yaitu yang mengutamakan kemudahan dan kenyamanan dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti rumah pintar (smart home).

    “Segmen pasar dari milenial lebih suka desain yang sederhana karena mereka lebih sering bepergian. Oleh sebab itu, konsep rumah pintar dan TOD diprediksi masih akan populer pada tahun ini,” kata Ariko seperti dilansir Bisnis.com, Rabu 2 Oktober 2019.

    Dia mengakui tren hunian TOD sudah mulai dikembangkan oleh beberapa pengembang mulai beberapa tahun belakangan.

    Alasan pengembang, kata dia, mengadopsi konsep TOD karena keterpaduan telah menjadi syarat utama untuk kota-kota modern. 

    “Konsep tersebut diminati karena menjadi sarana untuk mengurangi ketergantungan kepada kendaraan pribadi, apalagi kenyataan kelas menengah di Indonesia tidak mampu membeli rumah, tetapi mampu membeli kendaraan,” ujarnya.

    Terkait dengan konsep rumah pintar, Ariko mengungkapkan bahwa konsep tersebut masih akan populer. Menurut dia, generasi milenial ingin unsur teknologi dalam rumah pintar bisa memberi nilai tambah berupa kepraktisan, kenyamanan, dan keamanan dengan sistem kontrol yang bisa dilakukan melalui gawai.

    Teknologi smart home juga digadang-gadang mampu membuat penggunaan energi menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.

    “Ke depan saya rasa akan makin peminatnya dan akan makin menjadi kebutuhan. Apalagi sumber daya juga semakin lama semakin terbatas sehingga semuanya harus terukur jelas,” ucapnya.

    Ariko mengungkapkan bahwa saat ini sebenarnya konsep rumah pintar sudah cukup berkembang di Indonesia. Namun, hingga saat ini penerapan konsep tersebut oleh para pengembang dianggap masih belum secara utuh atau masih bersifat gimmick.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?