September Deflasi 0,27 Persen, Darmin Nasution: Bagus

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menjadi pembicara dalam acara Dies Natalis ke-11 Program Vokasi Universitas Indonesia, Depok, Senin, 22 Juli 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menjadi pembicara dalam acara Dies Natalis ke-11 Program Vokasi Universitas Indonesia, Depok, Senin, 22 Juli 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menilai deflasi 0,27 persen yang terjadi pada September 2019 cukup bagus. "Bagus, karena sebenarnya untuk pangan masih agak tinggi. Sehingga, ini kan deflasinya terutama pangan," ujar Darmin di kantornya, Selasa malam, 1 Oktober 2019.

    Walau demikian, Darmin Nasution mengatakan, tren pada bulan September memang inflasi kerap kali rendah bahkan deflasi. "Tahun lalu juga deflasi," ujarnya.

    Karena itu, Darmin optimistis tingkat inflasi selama setahun akan berada pada target pemerintah, yaitu di kisaran 3,5 persen.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat bahwa sepanjang bulan September 2019 terjadi deflasi sebesar 0,27 persen. Hal ini terjadi karena berbagai harga komoditas pada September 2019 yang secara umum menunjukkan penurunan.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, dengan kondisi deflasi tersebut maka inflasi tahun kalender atau dari Januari sampai September 2019 mencapai 2,20 persen. Sementara year on year atau inflasi tahunan dibandingkan 2018 menjadi 3,39 persen.

    "Melihat inflasi tahun kalender masih di bawah target, atau terkendali. Karena itu deflasi terjadi karena penurunan harga barang-barang bergejolak, tidak ada penurunan daya beli," kata Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa 1 Oktober 2019.

    Suhariyanto menjelaskan deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok bahan makanan sebesar 1,97 persen. Sedangkan, komponen komoditas dominan yang ikut andil dalam deflasi adalah cabai merah yang sumbang deflasi 0,19 persen, bawang merah 0,07.

    Kemudian ada daging ayam ras yang menyumbang 0,05 persen, cabai rawit 0,03 persen dan telor ayam ras sebesar 0,02 persen. Karena itu, kata Suhariyanto, boleh disimpulkan bahwa sebagian besar harga komoditas menunjukkan adanya penurunan.

    Suhariyanto menuturkan, harga kelompok pengeluaran yang menghambat deflasi adalah kenaikan harga sandang, seperti harga emas perhiasan. Selain itu, penghambat deflasi juga karena masih terjadinya inflasi untuk komponen uang kuliah.

    "Penyebab utama deflasi adalah turunnya harga cabai, daging dan telor ayam ras, yang hambat deflasi adalah kenaikan harga emas perhiasan dan uang kuliah," kata Suhariyanto.

    CAESAR AKBAR | DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.