September 2019 Deflasi 0,27 Persen, BPS: Harga Komoditas Turun

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pembeli memilih daging ayam di pasar murah yang digelar oleh PD Pasar Jaya pada akhir pekan selama Ramadan mulai pukul 07.00 hingga pukul 13.00 di pasar Rawamangun, Jakarta Timur. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    Sejumlah pembeli memilih daging ayam di pasar murah yang digelar oleh PD Pasar Jaya pada akhir pekan selama Ramadan mulai pukul 07.00 hingga pukul 13.00 di pasar Rawamangun, Jakarta Timur. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat bahwa sepanjang bulan September 2019 terjadi deflasi sebesar 0,27 persen. Hal ini terjadi karena berbagai harga komoditas pada September 2019 yang secara umum menunjukkan penurunan.

    Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan dengan kondisi deflasi tersebut maka inflasi tahun kalender atau dari Januari sampai September 2019 mencapai 2,20 persen. Sementara year on year atau inflasi tahunan dibandingkan 2018 menjadi 3,39 persen.

    "Melihat inflasi tahun kalender masih di bawah target, atau terkendali. Karena itu deflasi terjadi karena penurunan harga barang-barang bergejolak, tidak ada penurunan daya beli," kata Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa 1 Oktober 2019.

    Suhariyanto menjelaskan deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok bahan makanan sebesar 1,97 persen. Sedangkan, komponen komoditas dominan yang ikut andil dalam deflasi adalah cabai merah yang sumbang deflasi 0,19 persen, bawang merah 0,07.

    Kemudian ada daging ayam ras yang menyumbang 0,05 persen, cabai rawit 0,03 persen dan telor ayam ras sebesar 0,02 persen. Karena itu, kata Suhariyanto, boleh disimpulkan bahwa sebagian besar harga komoditas menunjukkan adanya penurunan.

    Suhariyanto menuturkan harga kelompok pengeluaran yang naik sehingga menghambat deflasi adalah kenaikkan harga sandang, seperti harga emas perhiasan. Selain itu, penghambat deflasi juga karena masih terjadinya inflasi untuk komponen uang kuliah.

    "Penyebab utama deflasi adalah turunnya harga cabai, daging dan telor ayam ras, yang hambat deflasi adalah kenaikan harga emas perhiasan dan uang kuliah," kata Suhariyanto.

    Menurut catatan BPS, kelompok sandang dan pendidikan masing-masing tercatat mengalami inflasi sebesar 0,72 persen dan 0,04 persen Sedangkan komoditas emas perhiasan menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen dan uang kuliah 0,02 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.