Pesawat Tinggal 11 Unit, Nasib 3.150 Pegawai Sriwijaya Air?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Sriwijaya Air. Dok. TEMPO/Kink Kusuma Rein

    Pesawat Sriwijaya Air. Dok. TEMPO/Kink Kusuma Rein

    TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Umun Asosiasi Serikat Pekerja Sriwijaya Air atau Aspersi Pritanto Ade Saputro ketar-ketir terhadap nasib 3.150 karyawan perusahaan setelah manajemen mereka pecah kongsi dengan Garuda Indonesia. Kekhawatiran tersebut muncul lantaran jumlah pesawat Sriwijaya Air yang beroperasi terus melorot dari jumlah semula 30 unit.

    “Saat ini pesawat yang aktif tinggal 11 unit. Satu pesawat dikerjakan 90-100 orang. Kalau karyawan kami ada 3.150 orang, berarti ada overhead,” ujarnya saat ditemui Tempo di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat, 27 September 2019. 

    Pritanto mengatakan saat ini perusahaan masih mencari provider baru untuk menggantikan bengkel Garuda Maintenance Facility atau GMF yang telah mencabut kerja sama dengan Sriwijaya. Entitasnya juga masih mencari operator pengganti Gapura Angkasa untuk ground handling pesawat.

    Sumber Tempo menyebutkan operasional pesawat Sriwijaya Air terancam terus melorot bila tak kunjung mendapatkan provider baru. Sriwijaya juga disebut masih menanggung beban utang kepada sejumlah BUMN, seperti GMF, BNI, dan Pertamina.

    “Utang Sriwijaya ke GMF paling besar, yakni saat ini sekitar US$ 50 juta,” ujarnya. 

    Persoalan Sriwijaya dan Garuda Indonesia sejatinya telah mencuat sejak Maret 2019. Sebelumnya, kedua perusahaan itu melakoni kerja sama manajemen atau KSM. Memanasnya konflik keduanya terjadi setelah pemegang saham membuat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB tanpa sepengetahuan direksi. 

    Hasil RUPSLB itu mengubah anggaran dasar atau anggaran rumah tangga yang isinya ditengarai membatasi kewenangan direksi. Adapun dalam RUPSLB tersebut, Sriwijaya telah untung Rp 20 miliar. 

    RUPSLB kembali digelar pada Agustus 2019. Tiga perwakilan pejabat yang ditempatkan oleh Garuda Indonesia di Sriwijaya Air didepak. Ketiganya adalah Direktur Utama Joseph Andriaan Saul, Direktur Sumber Daya Manusia Harkandri M. Dahler, dan Direktur Komersial Joseph K. Tendean. 

    Pemegang saham lalu menunjuk Jenderal (Purn) Jusuf Manggabarani sebagai Komisaris Utama dan RA Tampubolon sebagai Direktur Legal dan Kepatuhan. Tak lama berselang, pada 25 September 2019, Sriwijaya mengeluarkan surat pemberhentian untuk Joseph Saul, Harkandri, dan Josep Tendean. Sehari setelahnya, Garuda Indonesia memutuskan mencopot seluruh logo maskapainya di pesawat Sriwijaya Air. 

    Terkait masalah ini, Tempo telah mencoba menghubungi RA Tampubolon melalui telepon dan pesan pendek. Namun tidak direspons. Tempo juga menghubungi Direktur Komersial PT Sriwijaya Air Rifai Taberi dan Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air Adi Willi, tapi tak memperoleh balasan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.