PNM Terbitkan Reksadana ETF LQ45 Bidik Dana Kelolaan Rp 200 M

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas di hari pertama perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. IHSG naik 84,68 poin (1,36%) ke 6.293,801. TEMPO/Tony Hartawan

    Aktivitas di hari pertama perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. IHSG naik 84,68 poin (1,36%) ke 6.293,801. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT PNM Investment Management, menerbitkan produk investasi Reksa Dana PNM Exchange Traded Fund (ETF) Core LQ45. Reksadana berbentuk kontrak investasi kolektif ini menggunakan indeks saham paling likuid atau saham bluechip yang tercermin pada indeks LQ45 yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

    Direktur Utama PNM Investment Management Bambang Siswaji mengatakan penerbitan reksadana ETF dilakukan karena perusahaan melihat prospek yang makin cerah. Bahkan makin banyak manajer investasi menerbitkan produk ETF sejalan dengan kinerjanya yang terus moncer.

    "Kami melihat dan sangat optimistis reksa dana ETF akan semakin berkembang ke depan. Pasalnya, minat investor terhadap produk ini semakin tumbuh," kata Bambang usai pencatatan perdana reksadana di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin 30 September 2019.

    Bambang juga menjelaskan tingginya minat investor terhadap produk reksa dana jenis ini sejalan dengan tren pengelolaan investasi pasif guna mengurangi risiko investasi saham. Di samping itu, ETF juga memiliki karakteristik likuid, transparan, dengan tingkat risiko lebih moderat.

    Rencananya, kata Bambang, produk PNM ETF LQ45 ini akan mengalokasikan investasinya pada minimum 80 persen dan maksimum 100 persen dari nilai aktiva bersih pada saham-saham yang tercatat di indeks LQ45. Dan sisanya minimum 0 persen dan maksimum 20 persen pada instrumen pasar uang yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun.

    Lebih lanjut, Bambang juga mengatakan, perusahaan membidik dana pengelolaan sebesar Rp 200 miliar lewat produk ini. Saat ini, sekitar Rp 6 miliar dana kelolaan telah berhasil diperoleh lewat penerbitan reksadana jenis ini.

    "Sudah ada 10 investor yang berminat untuk membeli dana tersebut seperti dana pensiun, asuransi dan juga yayasan. Kami berharap, target dana tersebut bisa tercapai dalam waktu maksimal selama satu tahun," kata Bambang.

    Sementara itu, dalam periode tiga tahun terakhir produk ETF mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Per akhir Juni 2019 tercatat jumlahnya mencapai 26 produk atau tumbuh rata-rata sekitar 34,50 persen sejak akhir 2017 sebanyak 12 produk. Demikian pula, total dana kelolaan (asset under management/AUM) untuk produk ETF ini tercatat sebesar Rp14,12 triliun per Juni 2019 atau naik rata-rata sekitar 41 persen sejak akhir 2017.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.