Bank Indonesia Antisipasi Kekeringan Likuiditas

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jajaran Deputi BI Dody Budi Waluyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di gedung BI, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Jajaran Deputi BI Dody Budi Waluyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di gedung BI, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia atau BI Dody Waluyo menilai risiko pengetatan likuiditas telah dimitigasi dengan sejumlah kebijakan. Seperti diketahui, bank sentral telah merelaksasi giro wajib minimum (GWM) dan juga menyempurnakan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) dengan mengikutsertakan komponen pinjaman yang memiliki jangka waktu lebih dari sama dengan 1 tahun.

    Dody mengatakan bahwa selanjutnya kecukupan likuiditas senantiasa dipantau secara periodik. “Dampak dari kebijakan akan terus dimonitor,” katanya kepada Bisnis, Kamis, 26 September 2019.

    Sebelumnya, penyempurnaan komponen perhitungan RIM adalah kredit ditambah dengan surat berharga yang dimiliki bank dibagi dengan dana pihak ketiga ditambah dengan surat berharga yang diterbitkan. BI menambahkan pinjaman dengan jangka waktu lebih dari satu tahun dalam pembagi sumber dana.

    Dia melanjutkan bahwa apabila persepsi positif investor dapat dijaga, arus modal akan tetap mengalir. Hal ini akan berimbas pada realisasi fiskal sesuai perkiraan. Pada akhirnya likuiditas memadai untuk menopang kegiatan perekonomian termasuk mendorong pembiayaan.

    Likuiditas merupakan kunci bagi bank untuk ekspansi kredit atau pembiayaan. Bank harus mengimbangi antara pertumbuhan sumber dana dan juga penyaluran dana.

    Dalam jangka panjang, perbankan perlu lebih kreatif mencari sumber dana, utamanya yang telah menyentuh batas atas RIM. Bank sentral mewajibkan bank menjaga rentang RIM pada posisi 84 persen hingga 94 persen.

    “Kebijakan RIM tidak mendorong bank untuk ekspansi jika kualitas kredit buruk dan permodalan nya rendah dari batasan yang ditetapkan,” kata Dody.

    Apabila ada bank yang memiliki rentang RIM kurang dari batas bawah atau lebih dari batas atas, maka akan dikenakan setoran RIM. Akan tetapi hal itu mengecualikan bank yang memiliki rasio kredit atau pembiayaan bermasalah lebih dari 5 persen dan/atau rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) kurang dari 14 persen.

    Adapun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) akan terus merangkak naik. Berdasarkan indikator likuiditas September 2019, LPS memprediksi tahun ini industri perbankan akan menutup buku dengan posisi LDR 96,8 persen. Kemudian 12 bulan setelahnya posisi LDR akan naik menjadi 100,6 persen.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.