Ekonom Bulgaria Kristalina Georgieva Terpilih jadi Bos Baru IMF

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) berbicara dengan CEO World Bank Kristalina Georgieva (kiri) sebelum mengikuti sesi IMFC Plenary dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) berbicara dengan CEO World Bank Kristalina Georgieva (kiri) sebelum mengikuti sesi IMFC Plenary dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin

    TEMPO.CO, Jakarta - Dewan Eksekutif Dana Moneter Internasional atau IMF memilih ekonom Bulgaria, Kristalina Georgieva, sebagai direktur pelaksana menggantikan Christine Lagarde, yang akan menjadi gubernur Bank Sentral Eropa. Georgieva adalah orang pertama dari ekonomi berkembang yang ditunjuk untuk memimpin IMF sejak institusi ini didirikan pada 1944.

    Penunjukan wanita berusia 66 tahun itu melanjutkan tradisi orang Eropa sebagai memegang peranan penting di IMF. Pernyataan resmi yang dirilis IMF menyebutkan, mantan kepala eksekutif Bank Dunia tersebut akan memulai masa jabatan 5 tahunnya pada 1 Oktober 2019.

    Dilansir melalui Bloomberg, Georgieva menyampaikan dalam sambutan singkat di hadapan wartawan dan staf di kantor pusat IMF di Washington bahwa prioritas jangka pendeknya adalah membantu 189 negara anggota IMF meminimalkan risiko krisis dan mengatasi potensi penurunan.

    "Tanda peringatan sudah menyala dan kita harus siap untuk diuji," kata Georgieva, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis, 26 September 2019. "Saya menyadari sepenuhnya tantangan yang akan kita hadapi. Pertumbuhan ekonomi global terus mengecewakan, ketegangan dagang masih ada, dan beban utang meningkat di banyak negara."

    Sesaat setelah dia nanti menjabat sebagai pimpinan IMF, Georgieva akan dihadapi dengan isu krisis ekonomi di Argentina, yang tahun lalu menegosiasikan pinjaman terbesar dalam sejarah IMF sebesar US$ 56 miliar sebagai imbalan atas reformasi fiskal. IMF kini tengah menilai rencana utang baru Argentina dan mempertimbangkan apakah akan merilis tahap pinjaman dana berikutnya.

    Georgieva juga akan dihadapi dengan goyahnya pertumbuhan global dan kekhawatiran atas resesi di Jerman dan Italia akibat perang perdagangan AS-China yang membebani bisnis dan pasar keuangan.

    Ketidakpastian dari Brexit pun menambah prospek yang mengkhawatirkan bagi dunia, di mana proyeksi IMF menunjukkan ekonomi akan tumbuh sebesar 3,2 persen tahun ini, laju terlemah sejak krisis keuangan. IMF akan merilis proyeksi baru bulan depan pada pertemuan tahunannya di Washington.

    Georgieva, mantan komisioner UE, telah memperjuangkan inisiatif anti-kemiskinan sepanjang karirnya. Dengan IMF di bawah tekanan yang meningkat untuk melunakkan tuntutan penghematannya kepada para peminjam yang kesulitan, dia mungkin akan memberikan pendekatan yang lebih simpatik. Ia juga merupakan satu-satunya kandidat yang diajukan oleh Uni Eropa.

    Ashoka Mody, mantan wakil direktur di IMF Research and European Departments, mengatakan pengaruh Georgieva mungkin terbatas karena dia tidak dipandang sebagai tokoh dari ekonomi kelas berat yang mendapat penghormatan dari pembuat kebijakan global, seperti Lagarde dan pendahulu lainnya. Namun, latar belakangnya dapat membantu menambahkan 'dimensi kemanusiaan' pada saran kebijakan untuk negara-negara yang baru pulih dari krisis ekonomi.

    Di bawah pakta informal antara AS dan Eropa, direktur IMF selalu datang dari Eropa. Adapun, Bank Dunia dipimpin oleh orang Amerika.

    Beberapa pengamat telah menyerukan kedua lembaga ini untuk meninggalkan tradisi tersebut dan menunjuk orang luar sebagai pengakuan terhadap pengaruh pasar negara berkembang seperti Cina dan India. 

    Namun pengangkatan Georgieva sebagai bos IMF akan mematahkan dominasi 40 tahun oleh Eropa barat yang lebih. Sebelum Lagarde, ada Dominique Strauss-Kahn, juga dari Prancis, Rodrigo de Rato dari Spanyol dan Host Koehler dari Jerman.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.