Luhut Ajak Investor First Class Korea Selatan Masuk ke RI

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Maritim RI Luhut B. Pandjaitan ketika menghadiri forum bisnis

    Menko Maritim RI Luhut B. Pandjaitan ketika menghadiri forum bisnis "Invest Indonesia" di Seoul, Korea Selatan, yang digelar KBRI Seoul pada Jumat, 20 September 2019. [KBRI Seoul]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia mengajak investasi first class atau yang berteknologi maju asal Korea Selatan untuk bisa masuk ke Tanah Air. “Kini, saatnya investasi first class Korea Selatan (Korsel) masuk ke Indonesia. Bukan lagi investasi kelas dua yang hanya mengimpor bahan mentah dari Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dalam siaran pers BKPM di Jakarta, Rabu, 25 September 2019.

    Dalam forum bisnis "Invest Indonesia" di Seoul, Korsel itu, Luhut menjelaskan investasi first class adalah investasi yang mengandalkan teknologi maju, proses alih teknologi, dan peningkatan nilai tambah atas produk yang dihasilkan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

    Luhut menyebutkan beberapa peluang investasi di sektor hilir domestik yang memiliki nilai tambah tinggi, antara lain pengolahan mineral nikel, bauksit, dan mangan.

    Hubungan bisnis Korsel-Indonesia terus menjadi titik terang dalam perekonomian regional dan dunia. Hubungan kedua negara dinilai mengalami tren positif menyusul adanya realisasi investasi.

    Realisasi investasi itu di antaranya peletakan batu pertama kompleks industri petrokimia oleh Lotte Chemical dengan investasi sebesar 3,5 miliar dolar AS. Selain itu, Hyundai Motor juga mengumumkan bahwa mereka akan kembali ke Indonesia dengan investasi sebesar 1,7-1,8 juta dolar AS.

    Duta Besar RI untuk Korsel Umar Hadi mengatakan selama lima tahun terakhir Korsel menjadi salah satu sumber arus utama investasi asing langsung ke Indonesia.

    Namun, menurut data Financial Times FDI Market (2018) pengusaha Korsel menempatkan Indonesia sebagai pilihan ketiga sebagai opsi investasi luar negeri dengan dengan total capex 11,3 miliar dolar AS (41 proyek). Mereka memilih Vietnam sebagai opsi pertama dengan total capex sebesar 39,2 miliar dolar AS (201 proyek).

    “Masih banyak ruang untuk reformasi dan inovasi sebagai pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan untuk mengambil momentum dari perang dagang Amerika Serikat dan China, seperti yang dikemukakan Presiden baru-baru ini,” ujarnya.

    Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, melalui video sambutan dalam forum bisnis tersebut, menyebut meski menghadapi banyak ketidakpastian di tengah perang dagang Amerika Serikat dan China, Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara berkembang yang mendapatkan peningkatan peringkat dalam masa-masa sulit.

    “Saat ini, ekonomi dunia menghadapi banyak ketidakpastian. Seperti yang kita ketahui, perang dagang Amerika Serikat dan China terus berkecamuk, di mana baru-baru ini China mendevaluasi mata uangnya. Namun, Pemerintah Indonesia terus melanjutkan reformasi dan inovasi. Sekitar dua bulan setelah Pemilu, agensi pemeringkat internasional Standard & Poor’s menaikkan Investment Grade Indonesia dari BBB- ke BBB,” katanya.

    Prestasi positif itu diharapkan bisa mendorong gencarnya investasi asing, termasuk Korsel, ke Tanah Air.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara