Kementerian LHK Sebut Telah Turunkan Titik Api Karhutla

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Api mambakar lahan milik warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu, 22 September 2019. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga 30 September 2019. ANTARA

    Api mambakar lahan milik warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu, 22 September 2019. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga 30 September 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta -Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Ditjen PPI Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raffles B. Panjaitan menyatakan telah menurunkan titik panas atau hotspot di kebakaran hutan dan lahan disingkat karhutla di Sumatera dan Kalimantan.

    "Minggu sampai Senin itu sebanyak 2.033 hotspot, sampai hari ini ada 1.352 hotspot. Jadi ada penurunan, itu sangat tinggi," ujarnya di kantor KLHK, Jakarta, Selasa, 24 September 2019.

    Raffles menyampaikan, bahwa penurunan titik api itu adalah dengan skala 0-100 persen kepercayaan sebagai sumber api kebakaran hutan. "Jadi itu hotspot belum tentu ada fire. Jadi yang fire betul itu akan dilakukan pemadaman oleh tim dari regu-regu satgas yang ada.," ucapnya.

    Raffles mengungkapkan, untuk sebaran titik api terbanyak sampai hari Selasa, 24 September 2019 , berada di Kalimantan Tengah dengan 475 titik api, Sumatra Selatan dengan 165 titik api, Jambi sebanyak 130 titik api, dan Riau ada 84 titik api. "Kalimantan Barat  itu TMC sudah berhasil jadi cuma 39 hotspot kemudian Kalimantan Selatan 61, kemudia Papua cuma 7, itu sedikit," kata dia.

    Dia menuturkan, sampai hari ini juga masih diterima laporan tentang sumber kebakaran hutan di beberapa titik seperti di Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Namun menurutnya sudah ditangani oleh Satgas untuk pemadaman api itu sendiri.

    Raffles menyebutkan luasan lahan yang terbakar saat ini relatif kecil yakni berkisar antara satu hingga lima hektare, kecuali di Kalimantan Barat di mana terdapat wilayah terbakar seluas 43 hektare.

    "Sekarang 2019 ada 328 ribu hektare ini agak meningkat karena ada elnino lemah dan upaya kita lakukan sudah sampai ke tingkat 1.461 desa patroli tahun ini," kata  Raffles.

    Raffles menilai penurunan titik api tak lepas dari keberhasilan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan membuat hujan buatan yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

    Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto mengatakan, dalam upaya menciptakan hujan buatan untuk karhutla. Pihaknya sudah menyiapkan empat pesawat yang digunakan untuk menyebar garam di atas awan, antara lain dua pesawat Casa C-212-200 dan dua CN-295.

    "Akhirnya Kalimantan bisa hujan secara signifkan besarnya 70 juta meter kubik," kata dia.

    Seto sangat optimis dapat menyelesaikan karhutla ini dengan TMC. Ia menargetkan hingga pertengahan Oktober, kebakaran ini bisa diatasi.
    "Pertengahan Oktober akan sudah masuk hujan-hujan alam, bahkan saya sangat optimis menargetkan akan reda," ungkap dia.

    Selain itu,  terkait karhutla pemerintah juga lakukan upaya lain seperti water bombing, patroli, dan penegakan hukum kepada para ppembakarhutan, baik perseorangan maupun korporasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.