Sri Mulyani Sebut Perekonomian Global Masih Konsisten Melemah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers APBN KiTa di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Juli 2019 sebesar Rp183,7 triliun atau 1,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers APBN KiTa di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Juli 2019 sebesar Rp183,7 triliun atau 1,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sektor pertambangan dinilai tengah mengalami tekanan akibat terimbas pelemahan ekonomi dunia. Kondisi itu tampak pada penerimaan pajak serta bea masuk dan bea keluar yang mengalami kontraksi pada Agustus 2019.

    "Kalau saya bilang pelemahan ekonomi dunia mempengaruhi harga komoditas, itu bisa terlihat dari penerimaan pajak pertambangan yang mengalami kontraksi 16,3 persen," ujar Sri Mulyani di Kantor Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 24 September 2019.

    Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, penerimaan pajak pada sektor pertambangan mengalami pertumbuhan hingga 71,6 persen. Sri Mulyani mengatakan data tersebut menyiratkan bahwa sektor pertambangan memang mengalami tekanan yang sangat dalam pada tahun ini. "Sehingga penerimaan pajaknya juga mengalami tekanan."

    Pelemahan bisnsni pertambangan juga terkonfirmasi dengan data di bea keluar. Sebab, sektor pertambangan biasanya seiring dengan aktivitas ekspor. Berdasarkan data yang sama, terlihat bea keluar pada sektor pertambangan dan penggalian juga mengalami kontraksi 75,25 persen. Hal itu berkebalikan dengan kondisi tahun lalu saat sektor ini mengalami pertumbuhan hingga 200,24 persen.

    Selain sektor pertambangan, Sri Mulyani juga mengatakan industri pengolahan turut mengalami tekanan. Pertumbuhan penerimaan pajak dari sektor ini  -4,8 persen. Padahal, pada tahun lalu, sektor ini mengalami pertumbuhan 13,4 persen. Kondisi serupa terlihat dari penerimaan dari bea masuk yang mengalami kontraksi 5,10 persen dan penerimaan bea keluar yang kontraksi 12,58 persen.

    "Industri pengolahan dilihat dari pajak maupun aktivitas industrinya melalui impor bahan baku atau bahan modal menandakan adanya pelemahan," ujar dia. 

    Sektor lain yang dinilai terdampak adalah sektor perdagangan. Kendati, penerimaan pajak dari sektor ini masih tumbuh meski hanya 1,5 persen. Pertumbuhan itu jauh lebih lambat dari tahun lalu yang mencapai 26,7 persen. Pada aktivitas perdagangan luar negeri terlihat penerimaan dari bea masuk mengalami kontraksi 8,4 persen, kendati penerimaan dari bea keluar masih tumbuh positif 41,9 persen. "Itu menandakan sektor ini tidak imun dari dampak pelemahan terutama yang berasal dari luar," kata Sri Mulyani. 

    Sebelumnya, Sri Mulyani mengatakan hingga akhir bulan lalu kondisi di berbagai negara memang kurang menggembirakan. Pasalnya, banyak negara yang pertumbuhan perekonomiannya melambat. Misalnya saja Amerika Serikat  dan Eropa yang selama ini cukup kuat juga mengalami tren penurunan.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.