Kemarau Panjang, Warga Desa Ini Rogoh Rp 50 Ribu Untuk Beli Air

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita mengambil air dari lubang yang digali di dasar sungai yang kering di Desa Glagah, Sragen, Jawa Tengah, Selasa, 16 Juli 2019. Warga setempat kesulitan untuk mendapatkan air bersih sejak dua bulan terakhir akibat musim kemarau. Foto: Bram Selo Agung

    Seorang wanita mengambil air dari lubang yang digali di dasar sungai yang kering di Desa Glagah, Sragen, Jawa Tengah, Selasa, 16 Juli 2019. Warga setempat kesulitan untuk mendapatkan air bersih sejak dua bulan terakhir akibat musim kemarau. Foto: Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Jakarta -  Warga Desa Batuwinangun, Kecamatan Lubuk Raja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan mengalami krisis air bersih dampak dari musim kemarau panjang tahun ini.

    "Sebagian besar warga di desa kami sekarang ini kesulitan untuk mendapat air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata salah seorang warga Desa Batuwinangun, Ogan Komering Ulu, Samsudin di Baturaja, Senin 23 September 2019.

    Dampak musim kemarau panjang tahun membuat sumber mata air seperti sumur dan danau di wilayah setempat mengering.

    "Sejak hampir satu bulan terakhir ini sumber air di desa kami mulai dari sumur, embung hingga danau sudah dangkal bahkan airnya nyaris mengering," ungkapnya.

    Karena itu, ujar dia, untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga di wilayah setempat terpaksa membeli air dengan harga yang cukup mahal.

    "Sudah hampir satu bulan ini saya terpaksa merogoh kocek untuk membeli air bersih," kata dia.

    Dia menjelaskan, untuk satu tangki air ukuran 1.000 liter warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp50.000 guna memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. 

    "Sebenarnya fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di desa ini masih berfungsi namun belum maksimal sehingga kami terpaksa membeli air selama musim kemarau," kata dia.

    Menurut dia, fasilitas Pamsimas ini meskipun berfungsi namun tidak dapat menyalurkan air bersih untuk seluruh warga di wilayah itu. Pasalnya, pipa penyaluran air ke rumah warga sangat terbatas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.