Kredit Melemah, Bank Buku IV Tambah Portofolio di Surat Berharga

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur BI Perry Warjiyo (dua dari kiri) bersama jajarannya memberikan keterangan kepada wartawan saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. BI juga menaikkan suku bunga <i>deposit facility</i> 25 bps menjadi  4,75 persen dan suku bunga <i>lending facility</i> 25 bps menjadi 6,25 persen. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur BI Perry Warjiyo (dua dari kiri) bersama jajarannya memberikan keterangan kepada wartawan saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. BI juga menaikkan suku bunga deposit facility 25 bps menjadi 4,75 persen dan suku bunga lending facility 25 bps menjadi 6,25 persen. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Perlambatan penyaluran kredit membuat bank menumpuk dana di surat berharga. Hal itu terutama dilakukan oleh bank-bank besar, yakni bank umum kelompok usaha (BUKU) IV  yang memiliki dana berlebih di tengah pengetatan likuiditas perbankan. 

    Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Lando Simatupang mengatakan bahwa aksi bisnis itu merupakan strategi di tengah kondisi yang tidak pasti. Penempatan dana di surat berharga lazimnya menjadi opsi terakhir bank untuk mendapatkan margin bunga.

    Dengan demikian, saat kondisi ekonomi menantang, BUKU IV memiliki opsi untuk menempatkan dana pada surat berharga tanpa terlalu menggerus laba. “Bunga dari surat berharga masih bisa menutupi beban bunga dari dana murah,” kata Lando seperti dilansir Bisnis.com, Senin 23 September 2019.

    Pasalnya surat berharga memiliki profil risiko rendah dan tidak menimbulkan beban modal. Hal ini kontras dengan dana yang digunakan untuk ekspansi kredit.

    Pada bank kebanyakan, kata dia, kebijakan berimbas pada rentabilitas. Pasalnya surat berharga memiliki imbal hasil lebih kecil dibandingkan dengan bunga kredit.

    Namun, struktur dana BUKU IV didominasi oleh dana murah (current account savings account/CASA). Mengutip data otoritas, per Juni 2019 rasio dana murah BUKU IV sebesar 64,0 persen. Kontras dengan BUKU I, II, dan III yang memiliki rasio kurang dari 50 persen.

    Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2019, dana BUKU IV yang ditempatkan pada surat berharga naik 10,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp540,8 triliun. Penempatan tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan sebelumnya, karena kenaikan pada rentang 3,8 persen yoy hingga 5,3 persen yoy. Bahkan, pada Januari dan Februari dana BUKU IV pada surat berharga terkoreksi negatif.

    Penempatan dana pada surat berharga itu tumbuh menguat di tengah perlambatan pertumbuhan kredit BUKU IV secara tahunan. Per Juni 2019, fungsi intermediasi bank bermodal paling jumbo ini naik 16,6 persen yoy, sedangkan dua bulan sebelumnya, masing-masing tumbuh 18,1 persen yoy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.