Bulog Tuding Berasnya Dipalsukan oleh Mafia, Jadi Bau dan Berkutu

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengemasan beras saset 200 gram, Beras Kita, di Gudang Banjar Kemantren Perum BULOG Subdivre Surabaya Utara, Buduran, Sidoarjo Jumat, 6 Juli 2018. TEMPO/ Candrika Radita Putri

    Pengemasan beras saset 200 gram, Beras Kita, di Gudang Banjar Kemantren Perum BULOG Subdivre Surabaya Utara, Buduran, Sidoarjo Jumat, 6 Juli 2018. TEMPO/ Candrika Radita Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan akan segera mengeluarkan produk beras dengan kemasan kedap udara atau vakum. Kemasan baru ini diluncurkan guna menghindari pemalsuan beras yang dikeluarkan perusahaan pangan plat merah tersebut. Selama ini beras palsu Bulog itu sering ditemukan di pasar.

    "Saya akan terus mengubah produk-produk saya supaya tidak dijiplak. Yang selama ini karung-karung kita ditiru, dipalsukan, dengan maksud tujuannya adalah menjelekkan Pemerintah melalui Bulog," ujarnya di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Senin, 23 September 2019.

    Budi Waseso mengatakan sejumlah temuan di lapangan terkait modus kejahatan yang dilakukan oleh oknum atau mafia penyalur beras program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Antara lain adalah dengan menukar beras Bulog dengan beras lain yang kualitasnya lebih rendah ke dalam kantung berlabel Bulog.

    "Akibatnya, masyarakat penerima bantuan mengira bahwa beras bermutu rendah, bau, berkutu dan berwarna kusam itu adalah beras produksi Bulog," ucapnya.

    Selain menghindari pemalsuan produk, Budi Waseso menjamin kemasan vakum tersebut membuat serangga yang hidup di beras seperti kutu musnah. "Saya jamin selama delapan bulan, beras tidak berkutu, bahkan telur kutu saja tidak hidup," tambahnya.

    Dia mengungkapkan, karung dengan berbagai macam label beras premium mudah ditemukan di laman perdagangan daring. Buwas menyebutkan, para penjual sanggup menyediakan kemasan bermerek tertentu dengan jumlah yang besar.

    "Jadi banyak penjualan karung beras, cukup beli di online bisa dapat. Ini pemalsuan merupakan kejahatan awal. Pasti berkolaborasi dengan sindikat dan harus ditangani," ungkap dia.

    Budi Waseso juga menuturkan bahwa kemasan berlabel Bulog biasa dijual dengan harga Rp 1.000 per kantung di laman perdagangan daring. Oleh karena itu, dalam penyaluran beras BPNT pada program selanjutnya, akan memasarkan beras fortivikasi yang sudah dikemas plastik vakum kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

    Ada pun beras fortifikasi adalah inovasi beras sehat yang diperkaya dengan berbagai vitamin terdiri dari vitamin A, vitamin B1, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B9 (Asam Folat), vitamin B12, Zat Besi (Iron) dan Zink.

    "Semua wilayah sudah saya perintahkan sudah siap dengan itu fortivikasi dan itu akan kami salurkan," kata Budi Waseso. 

    Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polisi menjelaskan tidak ada paksaan kepada masyarakat untuk menerima beras bervitamin tersebut. Ia menambahkan, BPNT dapat dengan leluasa memilih beras dengan kemasan yang lama atau yang sudah divakum.

    "Kami tidak memaksakan untuk menerima beras fortivikasi, karena beras ini punya banyak vitamin. Jadi kami tidak memaksakan penerima BPNT menerima beras fortivikasi," ujarnya. "Mereka juga bisa memilih yang tidak vakum, karena kami tidak bisa memaksa, tapi beras dari Bulog kualitasnya terjamin."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.