Sri Mulyani: Ada Daerah di Jawa Belum Tersentuh Teknologi Digital

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani mengikuti Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2019. Rapat kerja tersebut membahas pengesahan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Bea Materai dan BPJS Kesehatan. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani mengikuti Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2019. Rapat kerja tersebut membahas pengesahan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Bea Materai dan BPJS Kesehatan. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti masih adanya daerah di Indonesia yang belum tersentuh teknologi digital. Daerah yang belum terjangkau teknologi digital itu pun masih ada, bahkan di Pulau Jawa.

    "Bahkan di Jawa masih ada area yang belum bisa terjangkau teknologi digital, apalagi di luar Jawa," ujar Sri Mulyani di Jakarta Convention Center, Senin, 23 September 2019.

    Karena itu, Sri Mulyani memastikan pemerintah terus menyediakan anggaran untuk membangun infrastruktur di Tanah Air. Dengan begitu, Indonesia bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari perkembangan teknologi, salah satunya dengan adanya penetrasi fintech.

    Saat ini, pemerintah tengah menyelesaikan pembangunan beberapa fasilitas pendukung akses internet. Misalnya saja dengan merampungkan Palapa Ring dan pembangunan satelit nasional.

    Di samping itu, pemerintah tengah berfokus mengembangkan sumber daya manusia untuk menyambut perkembangan teknologi tersebut. Buktinya, pendidikan dan vokasi mendapat jatah cukup besar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

    Senada dengan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap berkembangnya teknologi finansial alias fintech bisa mendorong pencapaian inklusi keuangan di Tanah Air. "Fintech diharapkan menjangkau masyarakat di daerah pedalaman dan terluar Indonesia," ujar dia

    Ia menyebut indeks inklusi keuangan di Indonesia yang masih ditargetkan mencapai 75 persen dari populasi di tahun ini. Berdasarkan survey Otoritas Jasa Keuangan 2016, baru 68,7 persen orang dewasa di Indonesia yang memiliki akses ke lembaga keuangan formal.

    Fintech, menurut Darmin, memang berpotensi untuk menggenjot angka inklusi keuangan tersebut. Sebab, berdasarkan data AFTECH pada 2019, layanan keuangan digital tersebut memang menyasar dan melayani masyarakat yang tergolong unbanked dan underbanked. Tahun ini, segmen tersebut mengisi 70 persen portofolio perusahaan fintech.

    Layanan tersebut pun dinilai mudah menjangkau masyarakat lantaran fiturnya yang mudah, aman, cepat, dan terjangkau. Sehingga, fintech saat ini dijadikan layanan keuangan alternatif bagi masyarakat.

    Di samping diharapkan bisa menjangkau masyarakat yang belum tersentuh lembaga keuangan formal, Darmin meminta pelaku keuangan digital untuk bekerja bersama agen-agen perbankan untuk percepatan inklusi keuangan.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.