Kredit Lambat, Bank Simpan Dana di Surat Berharga

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    TEMPO.CO, Jakarta - Perlambatan penyaluran kredit membuat bank menumpuk dana di surat berharga. Hal itu terutama dilakukan oleh bank-bank besar, yakni bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang memiliki dana berlebih di tengah pengetatan likuiditas perbankan.

    Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana BUKU IV yang ditempatkan pada surat berharga naik 10,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 540,8 triliun. Penempatan tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan sebelumnya, karena kenaikan pada rentang 3,8 persen yoy hingga 5,3 persen yoy. Bahkan pada Januari dan Februari dana BUKU IV pada surat berharga terkoreksi negatif.

    Penempatan dana pada surat berharga itu tumbuh menguat di tengah perlambatan pertumbuhan kredit BUKU IV secara tahunan. Per Juni 2019, fungsi intermediasi bank bermodal paling jumbo ini naik 16,6 persen yoy, sedangkan dua bulan sebelumnya, masing-masing tumbuh 18,1 persen yoy.

    Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Lando Simatupang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan strategi di tengah kondisi yang menantang. Penempatan dana di surat berharga lazimnya menjadi opsi terakhir bank untuk mendapatkan margin bunga.

    Pasalnya surat berharga memiliki profil risiko rendah dan tidak menimbulkan beban modal. Hal ini kontras dengan dana yang digunakan untuk ekspansi kredit.

    Pada bank kebanyakan, hal ini akan berimbas pada rentabilitas. Pasalnya surat berharga memiliki imbal hasil lebih kecil dibandingkan dengan bunga kredit.

    Namun, struktur dana BUKU IV didominasi oleh dana murah (current account savings account/CASA). Mengutip data otoritas, per Juni 2019 rasio dana murah BUKU IV sebesar 64,0 persen. Kontras dengan BUKU I, II, dan III yang memiliki rasio kurang dari 50 persen.

    Dengan demikian, saat kondisi ekonomi menantang, BUKU IV memiliki opsi untuk menempatkan dana pada surat berharga tanpa terlalu menggerus laba. “Bunga dari surat berharga masih bisa menutupi beban bunga dari dana murah,” ujar Lando pekan lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.