Pemerintah Kalah Sengketa dengan Brasil, Ini Ide Ma'ruf Amin

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berbelanja daging ayam pada hari pertama perayaan Tradisi Meugang menyambut Idul Adha 1440 Hijriyah di pasar tradisional Peunayung, Banda Aceh, Aceh, Jumat 9 Agustus 2019. Pada hari pertama tradisi meugang Idul Adha 1440 Hijriyah, harga daging ayam naik dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per ekor akibat meningkatnya permintaan pasar, sedangkan stok mencukupi. ANTARA FOTO/Ampelsa

    Warga berbelanja daging ayam pada hari pertama perayaan Tradisi Meugang menyambut Idul Adha 1440 Hijriyah di pasar tradisional Peunayung, Banda Aceh, Aceh, Jumat 9 Agustus 2019. Pada hari pertama tradisi meugang Idul Adha 1440 Hijriyah, harga daging ayam naik dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per ekor akibat meningkatnya permintaan pasar, sedangkan stok mencukupi. ANTARA FOTO/Ampelsa

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden terpilih Ma’ruf Amin menanggapi kekalahan Indonesia dalam sengketa dengan Brasil di World Trade Organisation (WTO) terkait dengan impor unggas dari Brasil. 

    Dia meminta masalah itu dapat diatasi tanpa mengganggu kepentingan peternak nasional dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

    “Tinjauan kehalalan produk ayam Brasil perlu kita cermati lebih dalam,” kata Ma’ruf Amin dalam sambutannya di Munas Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat) Indonesia, Sabtu 21 September 2019.

    Ma’ruf mengatakan perilaku konsumen Indonesia yang menyukai produk segar, bisa menjadi benteng kuat untuk menahan importasi ayam.

    Selain itu, Ma’ruf Amin juga menyoroti masalah lain yang dihadapi peternak unggas. Yakni permintaan daging ayam dan tekur yang terus meningkat setiap tahun  tetapi di sisi lain peternaknya semakin terpuruk.

    “Ini berarti ada yang salah dalam mengelola sektor ini. Mungkin kebijakan ekonomi sektor peternakan harus diubah total,” kata dia.

    Ma'ruf menyampaikan dua pendekatan. Pertama, pendekatan mikro dan teknis. Dia mempertanyakan apakah peternak sering salah dan tidak efisien dalam mengelola usahanya?

    Kedua, pendekatan kultural dengan melihat etos kerja peternak. “Tapi saya yakin peternak kita termasuk yang punya etos kerja yang baik,” kata Ma’ruf.

    Sementara itu, Ketua Umum Pinsar  Singgih Januratmoko menyebutkan dalam waktu cepat pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang efektif dalam mengatasi keterpurukan peternak unggas.

    “Sudah hampir setahun peternak unggas mengalami kerugian dan menuju jurang kehancuran tapi belum ada langkah efektif pemerintah menyelesaikan masalah itu,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.