182 Desa Rentan Karhutla, Kalbar Dorong Diversifikasi Pertanian

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bimpi Permata Restu (18) seorang sukarelawan dari Greenpeace ikut membantu petugas pemadam kebakaran saat memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten Pulang Pisau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, 13 September 2019. Guna padamkan Karhutla, tidak hanya petugas pemadam kebakaran, polisi atau TNI, tetapi juga terdapat sejumlah relawan dan warga. REUTERS/Willy Kurniawan

    Bimpi Permata Restu (18) seorang sukarelawan dari Greenpeace ikut membantu petugas pemadam kebakaran saat memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten Pulang Pisau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, 13 September 2019. Guna padamkan Karhutla, tidak hanya petugas pemadam kebakaran, polisi atau TNI, tetapi juga terdapat sejumlah relawan dan warga. REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Pontianak - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akan mendorong program pertanian tanpa bakar terhadap 182 desa rentan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ada di kawasan gambut. Tak hanya itu, pemerintah akan mengawasi lahan usaha pertanian dan didata secara detail sehingga bisa diminta pertanggungjawabannya kelak. 

    "Lahan-lahannya akan didata secara detail. Sehingga program pertanian tepat sasaran," kata Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, Jumat, 20 September 2019. Pasalnya, meski banyak titik api di konsesi, ada juga areal lahan yang terbakar milik masyarakat.
     
    Tetapi tidak sebesar areal kebakaran yang terjadi di dalam konsesi. Sutarmidji juga menilai sudah saatnya modernisasi pertanian dilakukan agar meninggalkan pola lama. 
     
    Terlebih, keberadaan perkebunan kelapa sawit belum memberikan efek nyata pada kesejahteraan masyarakat Kalimantan Barat. Terbukti dengan banyak desa miskin di sekitar konsesi. 
     
    Agar masyarakat awam tidak menjadi pelaku pembakaran lahan tidak terkendali, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalimantan Barat, pun membuat terobosan di seluruh sektor kebijakan untuk melakukan penanggulangan di antaranya dengan diversifikasi  pertanian. 
     
    "Kita sudah memetakan, sedikitnya 182 desa di Kalbar, yang wilayahnya berada di kawasan gambut dan rentan terjadi Karhutla," kata Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalbar, Heronimus Hero. Agar Karhutla tidak terulang, pihaknya akan memberikan program-program sesuai dengan kebutuhan, seperti misalnya adanya bantuan penanaman ubi kayu dan nanas.
     
    Pada umumnya, kata Hero, lahan pertanian yang terbakar merupakan lahan yang tidak produktif. Maka dari membuat lahan pertanian tetap ditanami oleh petani, menjadi sangat penting. Selain itu juga, pihaknya terus melakukan pembinaan terus, lewat penyuluh, agar dapat mengubah pola pikir masyarakat ke pertanian menetap. 
     
    Hero menjelaskan, lahan pertanian pangan di Kalbar yang terbakar di tahun ini tidak besar. Titik api yang ada berada di lahan yang status kepemilikannya belum jelas. Api tidak terkendali lantaran di areal tersebut minim saluran air mikro, seperti parit-parit kecil.
     
    Pembasahan lahan gambut juga penting agar saat musim kering tidak terbakar. Maka, ke depannya, khusus untuk lahan sawah akan dibuat parit-parit sebagai saluran air mikro. 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.