Jalan Tol Terbanggi Besar - Kayu Agung Diresmikan Oktober

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan memasuki rest Area KM 33 Tol Bakauheni-Terbanggibesar di Kota Baru, Jati Agung, Lampung Selatan, Lampung, Kamis 30 Mei 2019. Tempo/Amston Probel

    Sejumlah kendaraan memasuki rest Area KM 33 Tol Bakauheni-Terbanggibesar di Kota Baru, Jati Agung, Lampung Selatan, Lampung, Kamis 30 Mei 2019. Tempo/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Hutama Karya (HK) Bintang Perbowo memastikan ruas Jalan Tol Trans Sumatera Besar ruas Terbanggi-Pematang Panggang-Kayu Agung akan diresmikan dan beroperasional pada Oktober 2019. "Ada peresmiannya nanti, direncanakan pada Oktober. Kami masih menunggu konfirmasi tanggal. Insya Allah (Presiden Jokowi yang meresmikan)," kata Bintang setelah bertemu dengan Gubernur Sumsel Herman Deru, Rabu 18 Oktober 2019.

    Dengan kurun waktu kurang tinggal satu bulan lagi, ia mengatakan PT Hutama Karya (Persero) mengatakan saat ini ruas jalan tol sejauh 185 km tersebut sudah dalam tahap uji coba. "Setelah diresmikan langsung operasional. Ruas jalan sudah siap, marka jalan juga sudah selesai. Bahkan untuk pintu tol juga sudah," kata dia.

    Ia menjelaskan, usai diresmikan maka secara langsung juga tol langsung berbayar. "Langsung berbayar. Sekarang tol sedang di uji coba, namun belum dibuka oleh umum," ucap Bintang.

    Badan Pengatur Jalan Tol saat ini sudah melakukan uji layak fungsi dan uji layak operasi. Ia tak menyangkal, saat ini ada beberapa catatan dari BPJT yang harus ditindaklanjuti pihaknya.

    Hutama Karya memastikan untuk kontruksi dan sarana serta prasarana yang ada di ruas tol sudah sesuai standar dan dalam kondisi baik. "Tol ini menggunakan teknik file slab beton untuk struktur bangunannya. Tol ini tidak menggunakan sistem timbunan. Insya Allah aman, jadi masyarakat jangan kuatir," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.