Properti di Kawasan Sekitar Ibu Kota Baru Bakal Tumbuh

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial kawasan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu, 28 Agustus 2019. Sepaku dan Samboja, Kutai Kartanegara akan menjadi lokasi ibu kota negara baru Indonesia. ANTARA

    Foto aerial kawasan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu, 28 Agustus 2019. Sepaku dan Samboja, Kutai Kartanegara akan menjadi lokasi ibu kota negara baru Indonesia. ANTARA

    TEMPO.CO, Balikpapan - Rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur diperkirakan bakal mendorong lebih banyak pengembangan proyek di kawasan sekitarnya. Wakil ketua DPP Real Estat Indonesia, Hari Ganie, menjelaskan untuk kawasan ibu kota baru, ada pengembangan seluas 2.000 hektare untuk pembangunan istana dan 40.000 hektare fasilitas pendukunganya, sisanya 200.000 hektare untuk fasilitas lain-lain.

    Nantinya, captive market pasar properti akan terbagi dua. Pertama, untuk pasar aparatur sipil negara (ASN) bagi pengembangan di kawasan 2.000 hektare sampai 40.000 hektare. Namun, ASN bisa jadi keberatan karena sudah memiliki hunian di Jakarta.

    “Bisa jadi mampu tapi mau enggak beli lagi? Kalau enggak, pemerintah memberikan insentif, atau kalau ternyata enggak mau juga, pemerintah harus menyediakan rumah dinas. Kita lihat dulu. REI bisa diundang, bisa sebagai developer,” kata Hari, Rabu, 18 September.

    Captive market kedua adalah untuk pasar di luar ibu kota negara. Hari optimistis nantinya akan terbentuknya kawasan metropolitan sendiri. Apalagi lokasi ibu kota baru juga berada di tengah-tengah Samarinda dan Balikpapan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.