Produk Halal RI Jauh Tertinggal Dibanding Malaysia dan Thailand

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pekerja menguliti domba di tempat pemotongan hewan di Darkhan Meat Foods di Provinsi Darkhan-Uul, Mongolia, 13 Agustus 2018. Darkhan Meat Foods merupakan tempat yang menyembelih dan memproduksi hewan secara halal. REUTERS/B. Rentsendorj

    Para pekerja menguliti domba di tempat pemotongan hewan di Darkhan Meat Foods di Provinsi Darkhan-Uul, Mongolia, 13 Agustus 2018. Darkhan Meat Foods merupakan tempat yang menyembelih dan memproduksi hewan secara halal. REUTERS/B. Rentsendorj

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah mengatakan potensi pasar produk halal untuk dikirim ke luar negeri masih sangat luas. Namun eksportir komoditas halal masih didominasi asal negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

    "Sebenarnya pangsa pasarnya besar banget. Tetapi negara kita belum banyak (produk halal),  jika dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia," ujar Kepala Sub Direktorat Eropa Direktorat Perundingan Bilateral Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Dina Kurniasari di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu, 18 September 2019.

    Dina mencontohkan, Thailand meskipun bukan negara muslim tetapi bisa menyediakan produk halal yang bisa menyuplai permintaan dunia. "Pilihan produk halalnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan Indonesia," ucapnya.

    Thailand dan Malaysia, menurut Dina, memang sedang gencar dalam mengembangkan dan mengenal produk halal. Salah satu caranya dengan mengadakan pameran-pameran dalam skala yang cukup besar di negaranya.

    Dian juga mencontohkan salah satu produk halal Thailand seperti olahan pisang yang bisa dikemas sedemikian rupa yang bisa membuat konsumen tertarik. Jika dibandingkan dengan produk Indonesia yang masih terkesan asal dalam mengemas suatu produk. "Itu PR (pekerjaan rumah) untuk para produsen produk halal kita (Indonesia)."

    Menurut Dian, pasar produk halal Uni Eropa juga sangat luas karena banyaknya imigran yang berasal dari negara Timur Tengah. Dia menambahkan, produk halal tidak mesti digunakan oleh orang muslim saja, tetapi bisa dikonsumsi oleh semua orang.

    Lalu terkait aturan yang dikeluarkan pemerintah yakni Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 29 Tahun 2019 tentang Ketentuan Ekspor-Impor Hewan dan Produk Hewan kewajiban label halal, Dina menyebutkan bakal ada revisi.

    Revisi aturan dilakukan dengan mengeluarkan Permendag yang baru. Dina memastikan dalam beleid terbaru itu muatan halal akan diikutsertakan dan ditegaskan secara komprehensif.

    Terkait hal ini, Dina mengatakan dunia global sepanjang sepengetahuannya tidak mempermasalahkan ketentuan halal dari suatu negara. "Ketentuan halal diterima-terima saja di perdagangan global, WTO juga menerima."

    Berdasarkan catatan State of Islamic Economy Report 2018-2019, potensi pasar produk halal seperti total ekspor dalam perdagangan global mencapai US$ 124,75 juta. Sedangkan nilai impornya mencapai US$ 191,53 juta. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.