Ojek Online Marak, Siapa Saja Selain Grab dan Gojek?

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara ojek online dari Gojek Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih saat berunjuk rasa di Kedutaan Besar Malaysia, Jakarta Selatan, Selasa, 3 September 2019. Beberapa dari mereka terlihat membawa bendera Merah Putih dan mengibarkannya di sela aksi unjuk rasa. TEMPO/Amston Probel

    Pengendara ojek online dari Gojek Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih saat berunjuk rasa di Kedutaan Besar Malaysia, Jakarta Selatan, Selasa, 3 September 2019. Beberapa dari mereka terlihat membawa bendera Merah Putih dan mengibarkannya di sela aksi unjuk rasa. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Kompetisi transportasi daring atau ojek online semakin ketat dengan kedatangan berbagai pemain baru di sektor ini. Seleksi alam akan menjadi sesuatu yang tak dapat dihindarkan.

    Direktur Center for Sustainable Infrastructure (CSID) UI Mohammed Ali Berawi menuturkan, persaingan pendatang baru untuk mendapatkan pasar otomatis akan berjalan sangat kompetitif mempertimbangkan dominasi dari Gojek dan Grab yang sudah ada.

    "Persaingan bisnis ini dengan sendirinya akan mengalami seleksi alam, sehingga dipastikan penyedia bisnis yang mempunyai ketahanan modal, berdaya saing dan inovatif yang akan mampu bertahan dalam pasar digital," ujarnya, Selasa, 17 September 2019.

    Persaingan ini, terangnya, akan ditandai berbagai strategi dan langkah taktis dari pihak aplikator, termasuk melalui promosi potongan harga, bonus dan berbagai jasa layanan yang ditawarkan kepada pelanggan. Selain itu, perekrutan mitra melalui pemberian fasilitas, insentif dan skema bagi hasil yang menarik tentu akan menarik perhatian para mitra.

    Selain Gojek dan Grab, dalam google playstore setidaknya terdapat lebih dari 20 aplikasi ojek online berbasis daerah. Mereka antara lain Gorontalo Jek, Ko-Jek (Kalimantan), Si-Jek (Situbondo), Pas-Jek (Kota Sampit) dan Greenjek (Karawang).

    Menurut Ali, pertimbangan lain seperti pembangunan sistem situs dan aplikasi yang handal dan ramah pengguna, serta adanya layanan pelanggan yang responsif turut menjadi faktor yang menentukan ketahanan aplikator ojek online.

    "Dengan demikian market share sangat bergantung kepada inovasi pola bisnis masing-masing penyedia jasa layanan tentunya," katanya.

    Menurutnya, penyedia jasa transportasi akan menyediakan layanan yang biayanya efisien, nyaman, aman dan tepat waktu. "Ini merupakan kunci sukses bisnis layanan transportasi. Inovasi layanan dilakukan untuk mencapai hal-hal tersebut," katanya.

    Selain itu, pemerintah sebagai regulator perlu terus memastikan bahwa layanan transportasi publik memenuhi syarat juga menciptakan kondisi persaingan bisnis berjalan secara adil dan kondusif, dimana kepentingan masyarakat mesti terus dapat terjaga.

    Dengan kenaikan tren pengguna ponsel pintar yang saat ini diestimasi lebih dari 100 juta orang dan ketersediaan layanan internet yang semakin baik, dia meyakini pangsa pasar bagi industri digital akan semakin besar dan menarik.

    "Mempertimbangkan proses pembangunan yang terus berjalan dimana belum banyaknya transportasi publik yang masif, mudah aksesnya dan nyaman, terlebih lagi di luar Jakarta, maka industri transportasi daring memiliki peluang untuk bertumbuh dengan cepat," katanya. 

    Dia mengestimasi bahkan bisnis ojek online ini sudah menghasilkan lebih dari Rp 50 triliun per tahun. Sejalan dengan riset riset dunia Statista, memperkirakan pendapatan transportasi online di Indonesia sudah menembus US$ 3,63 miliar per tahun atau sekitar Rp 50,4 triliun per tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?