WWF Samakan Kebakaran Hutan di Indonesia dengan Amazon

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Satgas Karhutla Riau melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Senin, 16 September 2019. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi membuat sejumlah wilayah di Provinsi Riau terpapar kabut asap. ANTARA

    Satgas Karhutla Riau melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Senin, 16 September 2019. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi membuat sejumlah wilayah di Provinsi Riau terpapar kabut asap. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - WWF Indonesia menggambarkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Direktur Policy & Advocacy WWF Indonesia Aditya Bayunanda menjelaskan bahwa penyebab kebakaran cukup kompleks.

    "Tidak hanya pengaruh cuaca, kondisi alam, serta lemahnya pengawasan, tapi juga ulah manusia baik korporasi maupun individu," ujar Aditya, dalam diskusi Indonesia Darurat Karhutla dan Upaya Penyelamatan Hutan yang Tersisa di Kantor WWF Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa, 17 September 2019.

    Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui SiPongi Karhutla Monitoring System, rekapitulasi luas kebakaran hutan dan lahan pada 2019 mencapai 328.722 hektare. Jika tanpa dukungan dan inovasi penanganan, karhutla tahun ini bisa sama buruknya dengan tahun sebelumnya yaitu seluas 510.564,21 hektare.

    Adtya menambahkan, upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang dipimpin KLHK beserta tim gabungan yang terdiri dari BNPB, BPBD, Polisi, TNI, masyarakat dan LSM terus dilakukan. "Selama 7 hari, kalau kita lihat di peta, menunjukkan kebakaran di mana-mana, di wilayah produksi, konsesi, di luar konsesi, termasuk area konservasi," kata Aditya.

    Di Bukit Tiga Puluh dan daerah sekitarnya, ada yang banyak wilayah tak bertuan karena tidak jelas wilayahnya milik siapa. "Konsentrasi titik api cukup banyak, salah satu yang kita angkat adalah konsentrasi titik api banyak di daerah gambut. Antara mineral atau gambut bahwa sama-sama upaya ini dilakukan untik membuka lahan," tutur Aditya.

    Menurut Aditya, di Indonesia upaya membakar lahan memiliki tujuan untuk menguasai lahannya. Kejadian ini mirip dengan yang terjadi di Hutan Amazon, Brasil, yang dibakar karena ingin membuat peternakan sapi, berbeda lagi dengan Australia.

    Direktur Konservasi WWF-Indonesia Lukas Adhyakso mengajak semua masyarakat agar peduli. Sama seperti Aditya Lukas juga menyebutkan bahwa penyebab kebakaran hutan dan lahan bermacam-macam, selain cuaca kering, juga ada hal-hal yang terkait dengan pembukaam lahan ilegal.

    "Kita sendiri di WWF sudah kewalahan menanganinya. Kita semua harus telibat dalam menanganinya, kita meminta agar ini menjadi karhutla darurat karena luas sekali. Kita harus memadamkan bersama," kata Lukas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.