Agar Kopi Indonesia Kuasai Pasar Uni Eropa, Ini Saran Pengusaha

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wonogiri memiliki sejarah kopi namun sempat pudar setelah Belanda meninggalkan Indonesia. Foto: @kedaikopi_toejoetoejoe

    Wonogiri memiliki sejarah kopi namun sempat pudar setelah Belanda meninggalkan Indonesia. Foto: @kedaikopi_toejoetoejoe

    TEMPO.CO, Jakarta - Komoditas kopi Indonesia harus bersaing dengan produk  berasal dari Brasil dan Vietnam, jika ingin menguasai pasar Uni Eropa (UE). Alasannya, kata Ketua Komite Perjanjian Perdagangan Bebas Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Wahyuni Bahar, kopi Brasil dan Vietnam telah lebih dulu masuk ke Eropa dengan jumlah ekspor yang banyak.

    "Kopi Indonesia bersaing dengan kopi milik Brasil dan Vietnam untuk masuk pasar Uni Eropa. Apabila produksi hulu tidak ditingkatkan, Indonesia akan kalah jumlah untuk ekspor ke Uni Eropa karena Vietnam juga telah memiliki FTA (free trade agreement) dengan Uni Eropa," ujar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, 17 September 2019.

    Indonesia baru memenuhi 4 persen dari permintaan pasar di Uni Eropa. Sedangkan Brasil, Vietnam sudah mencapai 31 persen dan 25 persen. Untuk produktifitas kopi Indonesia pun rendah jika dibandingkan dengan Vietnam.

    Dia menuturkan, penyebab dari menurunnya produksi kopi dalam negeri dikarenakan keterbatasan lahan. Selain itu, insentifikasi dan ekstensifikasi dari untuk perkebunan kopi itu tidak berjalan maksimal.

    Wahyuni mengungkapkan, ekspor kopi dari dalam negeri sendiri pada tahun 2018 tumbuh melambat karena tingginya konsumsi dalam negeri. Selain itu harga kopi dunia kurang menguntungkan karena surplus pasokan global.

    "Pasar Uni Eropa sudah dibanjiri dengan kopi negara-negara eropa seperti Italia dan Jerman," kata dia.

    Menurutnya, investasi asing yang masih sedikit di perkebunan dan industri pengolahan biji kopi. Meskipun regulasi sudah melonggar dengan mengizinkan asing menanam modal 95 persen. "Investasi asing lebih banyak di manufaktur peralatan dan mesin pengolahan kopi," ungkapnya.

    Wahyuni menganjurkan kepada pemerintah harus segera menyelesaikan IEU CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement). Agar ke depannya produk kopi Indonesia memiliki daya saing tinggi untu masuk pasar Benua Biru.

    Pemerintah, kata dia, harus memberikan insentif bagi invetasi di perkebunan kopi baik hulu maupun hilir.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.