Bangun Pabrik Polyester Film, Mitsubishi Kucurkan Rp 1,82 Triliun

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong dan Pelaksana Tugas Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan BKPM, Farah Ratnadewi Indriani, menggelar konferensi pers tentang realisasi investasi triwulan II/2019 di kantor BKPM, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Juli 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong dan Pelaksana Tugas Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan BKPM, Farah Ratnadewi Indriani, menggelar konferensi pers tentang realisasi investasi triwulan II/2019 di kantor BKPM, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Juli 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan siap untuk memfasilitasi perluasan investasi oleh perusahaan terbesar asal Jepang, Mitsubishi Chemical Corporation (MCC), di Indonesia. Melalui anak perusahaannya PT. MC PET Film Indonesia (MFI), Mitsubishi akan membangun fasilitas baru untuk meningkatkan kapasitas produksi polyester filmmya di Indonesia.

    Menurut Kepala BKPM, Thomas Trikasih Lembong, perluasan pabrik polyester film itu dilakukan Mitubishi untuk memenuhi peningkatan permintaan pada bidang industri polyester film, terutama di Eropa.

    “Kami selalu menyambut baik investasi-investasi yang masuk dan kami fasilitasi sebaik mungkin kebutuhan mereka,” kata Thomas Lembong dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 16 September 2019. Di era persaingan saat ini, kata Thomas, pelayanan dan kemudahan menjadi faktor yang sangat penting bagi investor untuk memutuskan berinvestasi. 

    Rencananya, perluasan akan selesai pada akhir tahun 2021 dengan nilai investasi sebesar US$ 130 juta atau sekitar Rp 1,82 triliun. Saat ini, MCC diketahui telah memproduksi polyester film untuk aplikasi optik, industri dan pengemasan pada lima fasilitas produksi berlokasi di Jepang, Cina, Indonesia, Amerika Serikat, dan Jerman. 

    Sementara itu, Presiden Direktur PT. MFI Bambang H. Sastrosatomo mengatakan bahwa di pasar polyester film ini, MCC telah mengantisipasi pertumbuhan berkelanjutan dalam aplikasi optik untuk tampilan. Selain itu, permintaan polyester film terutama untuk proses pembuatan komponen elektronik menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. 

    Faktor-faktor di balik pasar yang menguntungkan ini, kata Bambang, termasuk perluasan penggunaan komponen elektronik dalam industri otomotif dan peningkatan produksi komponen elektronik. Di antaranya seperti Multilayer Ceramic Capacitors (MLCCs) yang didorong oleh meningkatnya jumlah BTS yang kompatibel dengan 5G. “Serta peningkatan yang berkelanjutan dalam peralatan telekomunikasi,” kata Bambang.

    Saat ini MFI juga telah bekerja untuk memenuhi kenaikan permintaan pasar dengan meningkatkan efisiensi pabrik saat ini dan langkah-langkah lainnya sehingga mampu memproduksi 20.000 ton polyester film setiap tahunnya. Akan tetapi, kata Bambang, dengan pertimbangan proyeksi pertumbuhan permintaan, MFI memutuskan untuk membangun fasilitas baru dengan skala 25.0000 ton per tahunnya. “Berarti akan meningkatkan kapasitas produksinya lebih dari dua kali lipat, yaitu menjadi 45.0000 ton,” kata dia.

    Dengan perluasan investasi ini, Direktur Promosi Sektoral BKPM Imam Soejoedi menyatakan upaya pemerintah mengeluarkan insentif penanaman modal tax holiday tahun 2018 yang lalu mulai membuahkan hasil. Dengan mekanisme yang baru, kata dia, tidak sedikit perusahaan memperhitungkan investasi skala besarnya di Indonesia. 

    Perusahaan ini terdiri dari investor loyal yang ingin melakukan perluasan dan juga investor baru. Khususnya untuk investor Jepang, kabar disetujuinya satu perusahaan Jepang yang mendapatkan tax holiday sangat cepat menyebar di kalangan pengusaha. "Hal ini memberikan dampak positif yang luar biasa bagi Indonesia,” kata Imam.

    Selain Mitsubishi Chemical, Imam juga menyebut setidaknya tercatat ada delapan perusahaan yang sedang dalam tahap serius mempertimbangkan usahanya di Indonesia. Di antaranya di sektor otomotif, kimia dasar, makanan dan minuman, pembangkit listrik, dan jasa lainnya. 

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.