Menhub Tanggapi Usul Nama Bandara Kertajati Jadi Bandara Habibie

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejak  pemindahan penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara  Bandung (BDO) per 1 Juli 2019 ini, Bandara Internasional Kertajati (KJT) mulai terlihat sibuk.

    Sejak pemindahan penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO) per 1 Juli 2019 ini, Bandara Internasional Kertajati (KJT) mulai terlihat sibuk.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan kementeriannya belum menerima surat permintaan perubahan nama Bandara Internasional Jawa Barat atau Bandara Kertajati menjadi Bandara Habibie. Usulan itu sebelumnya muncul dari petisi masyarakat di media sosial.

    "Belum (ada usulan). Kan perubahan nama itu diusulkan oleh Pemda dan disetujui oleh DPRD. Sejauh itu disetujui (DPRD), akan kita akan kondisikan," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa, 17 September 2019.

    Adapun proses pengubahan nama bandara, ujar dia, tak memerlukan waktu lama. Bila DPRD setempat telah menyatakan setuju dengan usulan Pemda, Kementerian bisa memprosesnya dalam waktu sepekan.

    Petisi penggantian nama bandara menjadi Bandara Habibie telah diteken lebih dari 655 orang melalui situs change.org. Pembuat petisi menulis, nama bandara sebaiknya diubah untuk mengenang jasa Habibie di bidang penerbangan.

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menilai petisi yang meminta penggantian nama Bandara Kertajati menjadi bandara Habibie adalah ide baik. “Saya sudah dengan dan memang sejalan dengan apa yang juga saya pikirkan,” katanya.

    Apresiasi untuk mengenang Habibie ini pun menurut dia tepat dikaitkan dengan dunia kedirgantaraan. Dia menuturkan peluang memberi nama Bandara Kertajati dengan nama Habibie masih terbuka.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.