Digempur Barang Impor, Pengusaha Tekstil Minta Insentif

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menghadiri peresmian pabrik perakitan mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah, 6 September 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menghadiri peresmian pabrik perakitan mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah, 6 September 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) meminta sejumlah insentif kepada pemerintah. 

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengakui impor tekstil dan produk tekstil (TPT), terutama di produk tengah yakni kain, benang, dan printing membanjiri pasar Indonesia.

    “Salah satu yang bisa dilakukan adalah harmonisasi bea masuk. Tadi saya laporkan kita sedang mengkaji harmonisasi bea masuk dari hulu sampai ke hilir, ini masih dalam proses,” katanya di Istana Negara, Senin 16 September 2019.

    Para pengusaha TPT, kata dia, juga meminta pajak pertambahan nilai (PPN) kapas untuk dihapus karena kapas merupakan bahan baku. Dia mengaku, usulan PPN kapas itu sedang dibahas dengan Kementerian Keuangan bersamaan dengan usulan penghapusan PPN untuk kayu log. 

    “Ada permohonan ada kawasan industri khusus untuk penerima relokasi daripada industri tekstil, salah satu dicarikan di wilayah Jawa Tengah. Pemerintah (juga sedang mengkaji untuk mempersiapkan relokasi itu dipermudah impor mesin tekstil yang tidak baru,” kata dia. 

    Dia menuturkan nilai ekspor TPT meningkat tipis yakni US$13,2 miliar pada 2018 dari US$13,1 miliar pada 2017.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.