Cukai Rokok Naik 23 Persen, Petani Tembakau: Di Luar Batas Wajar

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemerintah Tetapkan Rencana Kebijakan Cukai Hasil Tembakau Tahun 2019

    Pemerintah Tetapkan Rencana Kebijakan Cukai Hasil Tembakau Tahun 2019

     
    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) Agus Parmuji menilai kenaikan cukai rokok 23 persen di luar batas ambang kewajaran. Agus menilai dampak terhadap petani cukup besar. Apalagi, kata dia, setidaknya 3 juta petani menggantungkan hidup pada industri hasil tembakau (IHT). 
     
    "Suka tidak suka, petani tembakau ini masih bertumpu dari pembelian industri rokok nasional. Setidaknya 90 persen masih bertumpu pada pabrik rokok konvensional, khususnya sigaret kretek mesin atau sigaret kretek tangan," ujar Agus kepada Tempo, Ahad 15 September 2019. 
     
    Menurut Agus, cukai bisa berdampak pada iklim bisnis industri yang berpotensi pengurangan permintaan bahan baku tembakau dari petani lokal. Alih-alih bisa menurunkan prevalensi perokok pemula, Agus menilai menaikkan cukai di atas ambang batas hanya akan menggeser pola perokok dari konvesional ke rokok elektrik yang memanfaatkan momentum ini. 
     
    "Seharusnya cukai rokok elektrik lebih tinggi karena merugikan dua sisi, baik itu petani karena tidak gunakan bahan baku lokal, dan pemerintah terhadap pendapatan negara," ujar Agus
     
    Soal rencana untuk menekan prevalensi perokok pemula, Agus menuturkan sebagian besar pemicunya berasal dari sigaret putih mesin (SPM), yang mana kandungannya sebagian besar berasal dari impor. Menurut Agus, pemerintah seharusnya menerapkan disparitas cukai, artinya cukai lebih tinggi pada rokok dengan bahan baku impor. 
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.