Rupiah Menguat, Menteri Darmin Minta Eksportir Tak Khawatir

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menjadi pembicara dalam acara Dies Natalis ke-11 Program Vokasi Universitas Indonesia, Depok, Senin, 22 Juli 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menjadi pembicara dalam acara Dies Natalis ke-11 Program Vokasi Universitas Indonesia, Depok, Senin, 22 Juli 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution meminta para eksportir tak khawatir dengan menguatnya nilai tukar rupiah belakangan. Sebab, rupiah masih nerada di level kompetitif. "Arahnya memang begitu (menguat), jangan belum apa-apa sudah khawatir," ujar Darmin di kantornya, Jumat, 13 September 2019.  

    Ia pun mengingatkan bahwa pada awal 2018 nilai tukar masih berada di Rp 13.400-13.500 per dolar Amerika Serikat. Sementara, saat ini, nilai tukar masih di kisaran Rp 13.900-14.000 per dolar AS. "Kalau sudah Rp 13.400 atau Rp 13.300 boleh khawatir."

    Dilansir dari Antara, Nilai tukar yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Jumat terapresiasi ke level Rp 13.900 per dolar AS seiring optimisme pelaku pasar terhadap meredanya perang dagang.

    Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat, mengatakan Presiden AS Donald Trump sepakat untuk menunda kenaikan tarif tambahan pada barang-barang Cina. "Langkah tersebut meningkatkan harapan untuk meredanya friksi dagang antara dua negara dengan tingkat ekonomi terbesar di dunia," katanya, Jumat, 13 September 2019.

    Menurut Ariston, meredanya ketegangan perang dagang AS-Cina itu telah mendorong minat pelaku pasar terhadap aset-aset di negara berkembang yang akhirnya berdampak pada mata uang.

    Terpantau, pergerakan rupiah pada Jumat pagi mengalami apresiasi sebesar 40 poin atau 0,29 persen menjadi Rp 13.950 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp 13.990 per dolar AS.

    Sentimen selanjutnya, kata dia, pasar akan tertuju pada pertemuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed) yang diperkirakan akan memangkas suku bunganya."Keputusan The Fed menjadi perhatian pelaku pasar dalam menentukan arah kebijakan investasinya," katanya.

    Ia mengemukakan Trump kembali meminta Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga ke wilayah negatif, sebuah langkah yang biasanya enggan dilakukan oleh bank sentral dunia untuk melawan pertumbuhan ekonomi yang lemah.

    Ariston mengemukakan Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada pidatonya di Swiss belum lama ini mengeluarkan beberapa pernyataan yang memberikan indikasi belum akan melakukan pemotongan suku bunga pada bulan September ini.

     

    CAESAR AKBAR | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.