Luhut Pandjaitan Bantah Industri Tekstil Tertekan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan seusai menggelar rapat bersama sejumlah stakeholder di kantornya, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis petang, 25 Juli 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan seusai menggelar rapat bersama sejumlah stakeholder di kantornya, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis petang, 25 Juli 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Pandjaitan meyakini industri tekstil masih bisa bertahan, kendati saat ini sedang menghadapi gempuran produk impor yang membanjir di Tanah Air.

    "Tertekan gimana sih? Semua orang kan pakai baju, kecuali orang naked tidak pakai baju lagi, baru sunset industry," ujar Luhut di Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.

    Dia memastikan pemerintah akan mengambil langkah untuk menangani produk impor yang dalam dua tahun terakhir menggempur industri lokal. Ia menyadari bahwa saat ini produk asal Cina memang terus masuk ke negara-negara lain lantaran sudah kelebihan suplai.

    "Iya, kalau itu akan kita perhatikan lah. Karena Cina itu kan sekarang banyak atau kelebihan, ya Cina itu sekarang oversupply macam-macam jadi dia ekspor ke mana saja," kata dia. "Nanti kami tangani dengan benar, dengan bea cukai dan segala macam."

    Pada sektor pakaian, dia mengatakan ke depannya pemerintah akan mengembangkan industri spandeks sebagai bentuk hilirisasi dari batubara. Proyek itu sudah dalam tahap penjajakan. "Spandex itu sudah mulai, spandex itu Anda bayangkan untuk baju sepatu dan segala macam, itu bicara US$ 3 miliar lagi, itu sudah mulai."

    Sebelumnya Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menyebut setidaknya ada sembilan perusahaan tekstil gulung tikar dalam kurun 2018-2019 karena impor tekstil dan garmen yang membanjir.

    Besarnya volume produk impor kain membuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri sulit bersaing karena harga kain impor yang lebih murah. "Tidak ada pilihan lain selain menutup industrinya. Sekarang yang sudah tutup kami catat ada sembilan perusahaan yang hampir mendekati 2.000 orang (pekerja)," kata Ade di Menara Kadin, Jakarta, Senin, 9 September 2019.

    Adapun perusahaan tekstil yang menutup usahanya lebih banyak di sektor menengah, seperti pemintalan, pertenunan, dan rajut. Industri tekstil tersebut lebih banyak berorientasi domestik. Di sisi lain, impor kain dengan harga yang lebih murah membuat produk domestik kurang bisa bersaing.

    Menurut data Ikatan Ahli Tekstil seluruh Indonesia (Ikatsi), rata-rata pertumbuhan ekspor TPT dalam kurun 10 tahun (2008-2018)  naik 3 persen, sedangkan impor naik 10,4 persen. Neraca perdagangan pun terus tergerus dari US$ 6,08 miliar menjadi US$ 3,2 miliar.

    Sekretaris Jenderal API Jawa Barat Rizal Tanzil Rakhman menyebutkan kondisi keuangan mayoritas pabrik tekstil yang berorientasi pasar domestik terasa berat sejak 2017 hingga kini. "Pasar domestik kita tergerus impor. Lama-lama pengurangan karyawan, pengurangan produksi, cashflow tidak bertahan, lalu tutup," ucapnya ketika dihubungi.

    Sejak 2017 itu pula, kata Rizal, sebanyak 19 pabrik tekstil nasional dengan 35 ribuan karyawannya mengeluh kesulitan akibat lonjakan produk impor. Tapi yang resmi tutup ada 9 perusahaan. 

    Sebagian besar pabrik tekstil yang tertekan tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah, namun yang tutup kebanyakan berlokasi di Jawa Barat. "Karena beban cashflow-nya lebih berat dengan tingkat upah lebih tinggi," tutur Rizal. Jika tak segera ditanggulangi, keuangan perusahaan bakal makin tak tertolong, dan jumlah perusahaan tutup bisa bertambah.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.