Luhut Pandjaitan Curhat Sering Disebut Agen Cina

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan (tengah) berfoto bersama Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Ridwan Djamaluddin (ketiga kiri) dan Komisi Pembangunan dan Reformasi Cina Ning Jizhe (ketiga kanan) dalam pertemuan kerja sama antara Indonesia dengan Cina di Nusa Dua, Bali, Kamis 21 Maret 2019. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan (tengah) berfoto bersama Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Ridwan Djamaluddin (ketiga kiri) dan Komisi Pembangunan dan Reformasi Cina Ning Jizhe (ketiga kanan) dalam pertemuan kerja sama antara Indonesia dengan Cina di Nusa Dua, Bali, Kamis 21 Maret 2019. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menceritakan kisahnya yang sering dituduh  sebagai agen Cina. Tudingan itu muncul lantaran ia sering mengajak investor asing asal Negeri Tirai Bambu masuk ke Tanah Air.

    Padahal, menurut Luhut, memang Cina lah yang sering mau menanamkan duitnya untuk mengembangkan teknologi hilirisasi di Indonesia. "Kenapa belum ada hilirisasi di sana (beberapa komoditas), teknologi dari mana, balik-balik yang mau investasi Cina lagi. Sehingga ada yang bilang Luhut agen Cina, ada yang bilang dubes kehormatan Cina, itu yang ngomong asbun saja," kata Luhut di Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.

    Luhut mengatakan, dirinya memang kerap mendapat kritik dari publik atas kebijakannya membuka jalan bagi investasi Cina itu. Namun, ia menjamin pemerintah tidak asal memberikan proyeknya kepada investor dari Negeri Tirai Bambu. Sebab, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. "Orang selalu kritik saya di luar, ini kita Cina, semua Cina. Tidak, kita punya rule of thumb untuk investasi, mau siapapun saja," kata mantan Dubes RI untuk Malaysia itu.

    Pemerintah, kata Luhut, sejatinya terbuka dengan investasi dari mana pun. Sepanjang, hal tersebut sesuai dengan syarat-syarat atau rule of thumb tersebut. Batasan itu, salah satunya, adalah teknologi yang digunakan harus ramah lingkungan. Di samping, mereka juga harus mendidik tenaga kerja lokal. Sehingga, di masa depan Indonesia tidak lagi bergantung kepada tena kerja asing.

    "Jadi dia mau dari Bulan atau dari mana saja, sepanjang teknologi ramah lingkungan dan mendidik tenaga kerja lokal oke," ujar Luhut tegas.

    Ia mengambil contoh di Morowali, di mana investor Cina yang ada di sana harus mendirikan politeknik. Sehingga, dalam empat tahun ke depan tenaga kerja asing di sana sudah bisa diganti oleh tenaga lokal.

    Selain dua hal itu, Luhut juga mengatakan syarat lain yang mesti dipenuhi adalah adanya transfer teknologi ke Indonesia serta nilai tambah kepada industri di Tanah Air. Sehingga, orientasinya adalah kepentingan nasional.

    "Buat kami, sepanjang itu sesuai national interest kita, dan national interest kita bisa diamankan, tak peduli dari mana pun (investasi masuk)," ujar Luhut. "Kau orang mau tembak saya silakan, saya kan enggak ada bisnis itu juga, jadi yang penting membuat Republik ini lebih bagus."

    Lagipula, Luhut menambahkan, ia memastikan bahwa kerja sama yang ada saat ini bersifat antar bisnis atau business to business, bukan antar pemerintah alias government to government. Sehingga, rasio utang pemerintah pun masih bisa dijaga di bawah 30 persen.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.