Luhut Optimistis Indonesia Bisa Buat Mobil Listrik Sendiri

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan, mengunjungi booth Mitsubishi di pameran kendaraan listrik di Indonesia Electric Motor Show 2019 di Balai Kartini, Jakarta, 4 September 2019. (MMKSI)

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan, mengunjungi booth Mitsubishi di pameran kendaraan listrik di Indonesia Electric Motor Show 2019 di Balai Kartini, Jakarta, 4 September 2019. (MMKSI)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meyakini bahwa sejatinya Indonesia bisa membuat mobil listrik sendiri. Sebab, Tanah Air sudah punya modal bahan baku yang melimpah untuk membuat produk mobil berenergi setrum itu di dalam negeri.

    Luhut mencontohkan kerangka mobil listrik yang bisa dibuat dari produk turunan nikel yang banyak di Indonesia. Adapun bannya bisa dibuat dari karet lokal. "Jadi sebenarnya kita bisa buat sendiri. Kita aja yang terkadang mau gampangnya saja, ekspor raw material," ujar Luhut Luhut saat ditemui di Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.

    Karena itu, Luhut mengatakan, ke depannya mesti ada pengorbanan untuk mendorong hilirisasi sehingga dalam beberapa tahun ke depan akan ada nilai tambah dari produk Indonesia. Saat ini, industri pengolahan nikel tengah dikembangkan, salah satunya di Morowali, Sulawesi Tengah.

    Ke depannya, Luhut menjelaskan, di Morowali akan dikembangkan juga pabrik baterai lithium dan daur ulang baterai untuk mobil listrik. "Nikel ini kan bisa sampai 2024 dengan lithium baterai, dengan proses recycle itu bisa create US$ 34 miliar. Sekarang sudah hampir lebih US$ 10 miliar," tuturnya.

    Dengan pengembangan industri itu, kata Luhut, imbasnya bukan hanya kepada nilai tambah produk, namun juga kepada lapangan kerja. Pada 2024, di Morowali saja sudah  95 ribu orang pekerja yang terserap. "Itu belum termasuk pabrik baterai dan daur ulang baterai."

    Luhut mengatakan hilirisasi memang menjadi fokus pemerintah beberapa waktu ke depan. Sehingga, nilai tambah yang dihasilkan bisa terus bertumbuh. Jadi, Indonesia tidak lagi hanya bergantung kepada ekspor komoditas.

    Berdasarkan data yang ia miliki, Indonesia memang sudah mengalami pertumbuhan ekspor negatif sejak triwulan I 2019 lantaran terimbas penurunan harga komoditas seperti minyak sawit, batubara, hingga karet. "Karena kita bergantung kepada harga komoditas dan enggak ada added value," tutur Luhut.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.