Rekomendasi Impor Belum Turun, Pasokan Daging Sapi Tersendat

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang melayani pembeli daging sapi pada Tradisi Meugang kecil di pasar tradisional Lhokseumawe, Aceh, Jumat 9 Agustus 2019. Harga daging Sapi pada hari meugang kecil Aceh Rp170 ribu per kilogram, pedagang memastikan harga daging akan naik pada perayaan tradisi meugang Akbar H-1 Idul Adha menyusul meningkatnya permintaan ternak untuk kebutuhan meugang dan kurban. ANTARA FOTO/Rahmad

    Pedagang melayani pembeli daging sapi pada Tradisi Meugang kecil di pasar tradisional Lhokseumawe, Aceh, Jumat 9 Agustus 2019. Harga daging Sapi pada hari meugang kecil Aceh Rp170 ribu per kilogram, pedagang memastikan harga daging akan naik pada perayaan tradisi meugang Akbar H-1 Idul Adha menyusul meningkatnya permintaan ternak untuk kebutuhan meugang dan kurban. ANTARA FOTO/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketersediaan daging sapi sampai akhir tahun ini dikhawatirkan menipis, seiring rekomendasi impor sapi bakalan dari Kementerian Pertanian yang tak kunjung turun. Sebagian besar importir tak memperoleh tambahan izin impor karena gagal memenuhi kewajiban impor 20 persen sapi indukan. 

    Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong (Gapuspindo),  Joni P. Liano, mengatakan, kebutuhan sapi nasional sejauh ini belum bisa terpenuhi hanya dengan sapi lokal. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kebutuhan daging sapi pada 2018 tercatat mencapai 662.541 ton. Daging sapi lokal sendiri baru memenuhi 60,8 persen kebutuhan dengan produksi sebanyak 403.349 ton. 

    Sementara itu, 39,2 persen sisanya dipenuhi melalui daging impor, baik daging sapi atau kerbau maupun impor sapi bakalan. Kontribusi daging sapi bakalan sendiri diperkirakan mencapai 18 persen dari total kebutuhan

    "Stok bisa terganggu karena tidak ada penggantinya. Jadi, sapi yang dipelihara sekarang itulah yang digemukkan. Kalau sudah empat bulan dan dipotong, selesai. Kalau dalam waktu dekat tidak ada perubahan kebijakan, mereka tidak punya sapi yang digemukkan lagi kan?" ujar Joni P. Liano seperti dilansir Bisnis, Kamis 12 September 2019.

    Kekurangan kebutuhan sebanyak 18 persen  itu sejatinya bisa dipenuhi dengan memanfaatkan sapi lokal atau menambah kuota daging sapi beku. Namun, Joni berpendapatm hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan populasi sapi lokal yang tengah didorong pemerintah.

    "Kalau 18 persen ini tidak dapat didukung dengan pasokan sapi penggemukan, tentu akan menguras sapi lokal. Kalau sapi lokal, peningkatan populasinya akan terganggu. Menambah impor daging pun tak mudah, preferensi masyarakat kita lebih suka daging segar," tutur Joni.

    Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan mencatat antara 2017 sampai 2018, total sapi bakalan yang masuk ke Tanah Air mencapai 776.976 ekor. Rinciannya, dengan rincian 473.025 ekor pada 2017 dan 353.790 ekor pada 2018. 

    Jika mengacu pada kewajiban impor indukan dengan rasio 5:1 yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 2 Tahun 2017, maka impor indukan harusnya berjumlah 155.395 ekor. Namun, sampai awal 2019, realisasi baru berjumlah 21.145 ekor. Akibatnya, pasokan daging sapi pun tersendat-sendat.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.