Malaysia Sebut RI Kirim Asap, Gubernur Sumsel: Itu dari Mereka

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintas di jalan yang berkabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Dumai, Dumai. Riau, Sabtu 23 Februari 2019. Kabut asap pekat yang berasal dari karhutla menjadi ancaman besar bagi kesehatan warga Kota Dumai dan otoritas kesehatan setempat menemukan sebanyak 180 kasus per hari pada pasien yang terinfeksi saluran pernafasan atas (ISPA). ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

    Warga melintas di jalan yang berkabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Dumai, Dumai. Riau, Sabtu 23 Februari 2019. Kabut asap pekat yang berasal dari karhutla menjadi ancaman besar bagi kesehatan warga Kota Dumai dan otoritas kesehatan setempat menemukan sebanyak 180 kasus per hari pada pasien yang terinfeksi saluran pernafasan atas (ISPA). ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

    TEMPO.CO, Palembang - Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru tak terima atas tudingan dari Malaysia bila Indonesia mengirimkan asap ke negeri jiran itu. Tudingan tersebut tidak semuanya benar lantaran di beberapa wilayah di Malaysia juga mengalami bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

    "Justru negara mereka yang sumbang (kabut asap) akibat Karhutla di Serawak itu,” ujar Herman, Kamis, 12 September 2019.

    Meskipun demikian Herman Deru mengakui di Sumatera Selatan sedang terjadi Karhutla seperti di Muara Medak, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir dan beberapa kabupaten di Sumatera Selatan ikut menyumbangkan kabut asap. Pemerintah terus memantau menggunakan helikopter patroli.

    Pada Selasa lalu terpantau banyak lahan tidak produktif di daerah Muara Kuang, Kabupaten OKI Sumsel yang terbakar. Luasan lahan yang terbakar sedikit, tapi jumlah lahan terbakar cukup banyak sehingga volume asap yang dihasilkan terus meningkat. "Soal tudingan itu juga bikin ibu menteri (Menteri Lingkungan Siti Nurbaya) marah," ujarnya.

    Sejak awal 2019 hingga kini tercatat sebanyak 32.846 jiwa warga di berbagai kecamatan di Musi Banyuasin (Muba) mengalami Infeksi Saluran Pernaspasan Atas (ISPA). Kejadian tertinggi berlangsung bulan Agustus yang lalu dengan 6.084 kasus yang bertepatan dengan peristiwa kebakaran hutan, lahan dan gambut di desa Mura Medak, Bayung Lencir. 

    Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Muba, Azmi Dariusmansyah meminta warganya untuk memperbanyak meminum air putih sebagai langkah pencegahan secara dini. “Agustus tahun sebelumnya terdapat 4.162 kasus,” kata Azmi.

    Data lain menunjukkan sejak Januari hingga Agustus 2019, jumlah kasus ISPA masih naik turun. Januari tercatat 3.030 kasus, Februari 4.065 kasus, Maret 4.202 kasus. Berikutnya jumlah kasus turun pada bulan April menjadi 3.857 kasus dan 3604 kasus di bulan Mei.

    Selanjutnya kembali meningkat pada Juni sebanyak 3912 kasus, Juli 4.092 kasus dan mencapai puncaknya di bulan Agustus 6084 kasus. “Sedangkan sepanjang tahun lalu tercatat 43.806 kasus,” ujar Azmi.

    Sementara itu Syafrul Yunardi, Kepala Seksi pengendalian kebakaran hutan dan lahan, dinas kehutan Sumsel menjelaskan tidak kurang dari 3.000 hektare lahan di Muara Medak terbakar habis. Beberapa di antaranya merupakan hutan gambut yang masuk dalam cakupan restorasi.

    Di Muara Medak selain gambut, api juga membakar perkebunan sawit, karet, jelutung. Untuk mencegah perluasan area kebakaran hutan, pihaknya menggiatkan pembasahan baik di daerah yang terbakar maupun yang belum terbakar. "Terbukti kawasan yang dibasahi lebih awal akan aman dari api,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.