Jejak BJ Habibie di Dirgantara Indonesia

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Presiden, BJ Habibie memerlihatkan medali Edward Warner Award usai upacara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, (10/8). Medali Edward Warner Award merupakan bukti Habibie terpilih sebagai ilmuwan dirgantara yang berjasa dalam pengembangan dan desain pesawat. ANTARA/Agus Bebeng

    Mantan Presiden, BJ Habibie memerlihatkan medali Edward Warner Award usai upacara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, (10/8). Medali Edward Warner Award merupakan bukti Habibie terpilih sebagai ilmuwan dirgantara yang berjasa dalam pengembangan dan desain pesawat. ANTARA/Agus Bebeng

    TEMPO.CO, Bandung - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Elfien Goentoro mengucapkan duka cita atas atas nama pribadi dan keluarga besar perusahaan atas meninggalnya Presiden Ketiga RI BJ Habibie.

    “Kami merasa kehilangan, bapak founding-fathers. Kami atas nama seluruh karwayan PT Dirgantara Indonesia, dan atas nama pribadi. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga beliau meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan disempurnakan semua amal ibadahnya,” kata dia di ruang kerjanya di Bandung, Rabu malam, 11 September 2019.

    Elfien mengatakan, Habibie merupakan pendiri PT Dirgantara Indonesia, dulu bernama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. “Berdiri tanggal 24 Agustus 1976. Umurnya sudah 43 tahun,” kata dia.

    Habibie tercatat menjadi Direktur Utama pertama perusahaan itu, sejak 1976 sampai 1998. “Beliau di samping pendiri, penggagas, dimulainya advance technology yang ada di BPPT, beliau membuat terobosan bahwa bagaimana production manufacturing plan, itu dilakukan dari kita mulai melakukan assembly sampai mengintegrasikan dan mendesain sendiri pesawat terbang,” kata Elfien.

    Elfien mengatakan, Habibie memulai dengan memuat pesawat NC212-100 bersama CASA (Spanyol), pesawat untuk 24 penumpang. PT DI sampai saat ini masih terus mengembangkannya, hingga versi terakhirnya NC212i yang memiliki kemampuan auto-pilot. “Itu salah satu rekam jejak beliau,” kata dia.

    Elfien mengatakan, Habibie melanjutkan merancang CN235, masih bersama CASA. PT DI hingga saat ini masih terus memproduksinya. “Seluruh produk CN235 di dunia ini, setengahnya dibuat putra putri bangsa Indonesia sendiri. Di dunia ini ada 283 pesawat CN235,” kata dia. “Bagian outer wing, fuselag, sampai ekor ke belakang itu bagian dari PT DI, yang di depan sampai samping center wing itu CASA.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.