Ini Alasan Satelit Internet Satria Ditempatkan di Atas Papua

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menandatangani Perjanjian Kerjasama, Perjanjian Penjaminan, dan Perjanjian Regres Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) pada Proyek Satelit Satria di Museum Nasional, Jakarta. Jumat, 3 Mei 2019. dok. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menandatangani Perjanjian Kerjasama, Perjanjian Penjaminan, dan Perjanjian Regres Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) pada Proyek Satelit Satria di Museum Nasional, Jakarta. Jumat, 3 Mei 2019. dok. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

    TEMPO.CO, Budapest – Direktur utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (Bakti) Anang Latif menjelaskan alasan mengapa Satelit Republik Indonesia atau Satria akan ditempatkan di atas Papua. Satelit Satria akan berada pada ketinggian 35.786 meter dpl di atas wilayah Papua.

    Menurut Anang, orbit di atas Papua dipilih karena PT Pasifik Satelit Nusantara memiliki slot orbit di sana. “Lokasi yang dipilih di atas Papua tapi jangkauannya mencakup seluruh wilayah Indonesia,” kata Anang di Paviliun Indonesia dalam forum ITU Telecom World 2019 di Budapest, Hungaria, Selasa 10 September 2019.

    Sebenarnya, kata Anang, di manapun lokasi di atas Indonesia tidak masalah, asalkan slot orbit Satelit akan ditempatkan harus terdaftar sebelumnya di International Telecommunication Union (ITU). “Kita harus sudah melakukan koordinasi teknis untuk kelayakan karena penempatan satelit harus melalui kerja sama dan kesepakatan dengan berapa negara tetangga.”

    Diperkirakan satelit berkapasitas 150 Gbps itu akan selesai dibangun oleh Thales Alenia Space pada akhir 2022 dan siap beroperasi pada awal 2023. Pemerintah juga telqh melakukan MoU dengan SpaceX untuk meluncurkan satelit itu dari Cape Canaveral di Florida.

    Meski memiliki kapasitas 10 kali lebih besar dibandingkan satelit Nusantara 1 milik PSN yang diluncurkan beberapa waktu lalu, diprediksi kebutuhan di masa depan akan jauh lebih besar.
    “Karena layanan yang dulu hanya foto sekarang ada video high resolution. Kami meyakini bahwa 150 Gbps pun tidak akan cukup,” ujarnya. “Bahkan Pak Menteri sudah merencanakan untuk membeli satelit kedua bahkan ketiga untuk mengantisipasi kebutuhan bandwidth yang cukup besar di masa mendatang.”

    Peluncuran Satelit Satria adalah untuk melengkapi proyek backbone serat optik Palapa Ring yang rampung pada 17 Agustus 2019. Satelit multifungsi ini akan menyiapkan layanan internet cepat. Berbeda dengan Palapa Ring yang menjangkau ibu kota kabupaten atau kota, satelit ini akan menyediakan layanan internet bagi desa-desa yang jaraknya jauh dari Kota.

    TJANDRA DEWI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.