Kontainer Diduga Isi Sampah Plastik, KLHK Diminta Bertindak

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana bongkar-muat kontainer di New Priok Container Terminal 1 (NPCT-1) Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018. Terminal baru tersebut dapat melayani kapal peti kemas dengan kapasitas 13-15 ribu TEUs dengan bobot di atas 150 ribu DWT. TEMPO/Amston Probel

    Suasana bongkar-muat kontainer di New Priok Container Terminal 1 (NPCT-1) Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018. Terminal baru tersebut dapat melayani kapal peti kemas dengan kapasitas 13-15 ribu TEUs dengan bobot di atas 150 ribu DWT. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia Maritime Logistic Transportation Watch mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK segera melakukan pemeriksaan terhadap ratusan kontainer impor. Kontainer itu diduga berisi sampah plastik yang sampai kini menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok.

    Sekretaris Jenderal Indonesia Maritime Logistic Transportation Watch atau IMLOW Achmad Ridwan Tentowi mengatakan menerima informasi di antara kontainer itu sudah ada yang mengendap lebih dari 60 hari di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu. 

    "Apabila dibiarkan atau terlambat pemeriksaannya sehingga terlambat untuk di re-ekspor akan menyebabkan terganggunya kelancaran arus barang dan juga akan menyebabkan makin tingginya biaya penumpukan di pelabuhan sehingga akan menyulitkan proses re-ekspornya," ujarnya, Rabu, 11 September 2019.

    Dia mengatakan berlarutnya penyelesaian masalah itu pada akhirnya berpotensi ratusan kontainer impor yang diduga berisi sampah atau limbah plastik tersebut ditelantarkan oleh importirnya seperti kejadian sebelumnya pada beberapa tahun lalu.

    Oleh karena itu, dia meminta instansi berwenang tegas agar kontainer impor limbah itu bisa dire-ekspor. "Mengingat dari jumlah peti kemas impor berisi sampah itu sudah banyak mengendap di terminal peti kemas maupun fasililitas TPS di pabean Priok, bahkan sudah ada yang mengendap lebih dari 60 hari," ucap Ridwan.

    Berdasarkan catatan IMLOW, imbuhnya, masuknya sampah plastik impor dalam jumlah besar tersebut bukan kejadian yang pertama kali. Juga telah terjadi beberapa kali abandon (kontainer impor tdk diurus lagi oleh importirnya) di Pelabuhan Tanjung Priok yang akhirnya menyulitkan semua pihak terkait dalam pengurusannya.

    "Kalau kontainer impor itu sampai di-abandon akan menjadi kerugian besar buat kita semua lantaran tidak ada yang bertanggung jawab mengenai biaya-biaya di pelabuhannya seperti handling, storage dan lainnya," paparnya.

    Ridwan mengatakan, menumpuknya ratusan kontainer yang terlalu lama di pelabuhan sangat berpotensi mempengaruhi kelancaran arus barang dan logistik dari dan ke pelabuhan Priok akibat kepadatan pada yard occupancy ratio (YOR) di terminal peti kemas maupun di TPS.

    Saat ini, Pelabuhan Tanjung Priok terdapat lima fasilitas terminal peti kemas yang layani ekspor impor yakni: Jakarta International Container Terminal (JICT), Terminal Peti Kemas Koja, New Priok Container Terminal One (NPCT-1), Terminal Mustika Alam Lestari (MAL), dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.