Emiten Dinilai Khawatir Penerbitan Saham Baru Tak Diserap Pasar

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung memperhatikan layar pergerakan saham saat Public Expose Live 2019 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 20 Agustus 2019. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) atau yang biasa disebut Self Regulatory Organization (SRO) menggelar Public Expose Live 2019 yang diikuti 42 emiten. TEMPO/Tony Hartawan

    Pengunjung memperhatikan layar pergerakan saham saat Public Expose Live 2019 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 20 Agustus 2019. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) atau yang biasa disebut Self Regulatory Organization (SRO) menggelar Public Expose Live 2019 yang diikuti 42 emiten. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Bahana Sekuritas Feb Sumandar menjelaskan, saat suku bunga turun biasanya penggalangan dana lewat pasar saham menjadi semakin menarik.

    “Namun, hal itu belum maksimal terjadi di pasar keuangan domestik karena investor masih khawatir terhadap volatilitas yang ada, yang lebih banyak diakibatkan oleh faktor eksternal,’’ kata Feb melalui keterangan resmi yang dikutip Rabu 11 September 2019.

    Feb menuturkan beberapa emiten yang tadinya berencana menerbitkan saham ataupun obligasi kini masih menahan diri karena khawatir penerbitannya tidak mampu diserap pasar. 

    Adapun, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pada awal September, terdapat 33 perusahaan baru yang tercatat lewat penawaran umum saham perdana (initial public offering). Jumlah ini di bawah perolehan pada akhir September 2018 yang sebanyak 37 IPO.

    Yang terbaru adalah PT Kencana Energi Lestari Tbk. (KEEN) melepas 733 juta saham seharga Rp396 per lembar saham dengan total perolehan dana mencapai Rp290 miliar.

    Sementara dari penerbitan obligasi, pencatatan teranyar adalah obligasi berkelanjutan Indonesia Eximbank IV senilai Rp1,01 triliun dan sukuk Mudharabah berkelanjutan Indonesia Eximbank I 2019 senilai Rp150 miliar yang diterbitkan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.

    Dengan demikian, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat hingga awal bulan ini mencapai 73 emisi dari 41 emiten dengan total nilai emisi mencapai Rp86,1 triliun.

    Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, per akhir September 2018 tercatat total emisi obligasi dan sukuk mencapai 63 emisi dari 41 perusahaan dengan total dana Rp77,71 triliun.

    Padahal, pada tahun lalu bank sentral tengah melakukan pengetatan moneter secara bertahap demi menjaga defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman.

    Namun, pada tahun ini BI mengambil langkah pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga sebanyak 50 bps dalam 2 bulan terakhir. Suku bunga acuan 7-Day Reserve Repo Rate yang saat ini berada di level 5,5 persen diharapkan dapat mendorong pertumbuhan PDB.

    Feb pun merekomendasikan instrumen alternatif di tengah kondisi saat ini untuk tetap meraih nilai pendanaan yang diinginkan, seperti penerbitan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) ataupun kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK EBA).

    ‘’Dalam kondisi ini, sangat diperlukan adanya instrumen pembiayaan alternatif yang membuat investor yakin untuk berinvestasi, sehingga pada akhirnya diserap oleh pasar meski kondisi pasar keuangan sedang diliputi volatitlitas tapi tidak akan terkena dampaknya,’’ ujar Feb.

    Adapun, pekan lalu, Bank Bukopin telah mencatatkan KIK—EBA Bahana Bukopin Kumpulan Tagihan Kredit Pensiunan yang Dialihkan Kelas A1, dengan nilai emisi mencapai Rp480,40 miliar dan tingkat bunga sebesar 9,25 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.