Ekonomi Dunia Tak Ramah, Jokowi Ajak ASEAN Ambil Peluang

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat menerima sejumlah masyarakat Papua di Istana Negara, Jakarta, Senin 10 September 2019. Pertemuan untuk mencari solusi terbaik pembangunan Papua kedepan. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo saat menerima sejumlah masyarakat Papua di Istana Negara, Jakarta, Senin 10 September 2019. Pertemuan untuk mencari solusi terbaik pembangunan Papua kedepan. TEMPO/Subekti.

    Tempo.Co, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengajak negara-negara ASEAN untuk memanfaatkan kemunduran beberapa negara yang mengalami resesi ekonomi. "Kita harus berusaha memanfaatkan kemunduran di beberapa kawasan sebagai peluang untuk kita bisa melompat ke depan," kata Jokowi dalam peresmian pembukaan The 37th Conference ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO37) di JIEXPO, Jakarta, Rabu, 11 September 2019.

    Jokowi mengatakan, ekonomi dunia saat ini sedang tidak ramah. Beberapa negara mengalami kemunduran ekonomi bahkan hingga resesi ekonomi. Sehingga, Jokowi menilai negara-negara ASEAN harus mampu membentengi diri untuk tetap tumbuh stabil dan keberlanjutan. Caranya, kata dia, tak ada lagi selain harus selalu mengembangkan inovasi dan melakukan terobosan.

    "Sehingga dalam situasi ekonomi dunia yang sedang sulit seperti sekarang ini justru menjadi peluang bagi kita di ASEAN untuk berkembang lebih cepat," katanya.

    Dengan jumlah penduduk sekitar 600 juta, kata Jokowi, ASEAN merupakan sebuah kekuatan besar ekonomi dunia. ASEAN telah membuktikan diri sebagai kawasan yang aman, stabil, dan pertumbuhan ekonomi yang mengagungkan. Untuk tumbuh besar lagi maka negara-negara ASEAN butuh sinergi lebih banyak lagi. Namun, Jokowi meminta negara-negara ASEAN harus saling membantu satu dengan yang lainnya, termasuk di antara insinyur yang ada.

    Meski begitu, mantan Gubernur DKI ini berharap kerja sama bukan saja antar insinyur, tapi juga antara insinyur dan ahli dari bidang ilmu yang lain. Sebab, untuk melahirkan inovasi baru yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi para insinyur pasti membutuhkan keahlian lain.

    Jokowi mengatakan, saat ini sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah yang menguasai hybrid knowledge dan hybrid skill yang relevan dengan kebutuhan zaman sekarang ini. Melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi lintas ilmu tersebut, maka inovasi akan berkembang lebih hebat. "Mengembangkan model bisnis baru penting, dan mengantisipasi emerging business, menyiapkan emerging skills untuk menyambut emerging jobs," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.