Bappenas: Ibu Kota Baru Bisa Tahan Dampak Pelemahan Ekonomi Dunia

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang  Brodjonegoro (kanan) bersama jajarannya, saat berkunjung di kantor Redaksi Tempo Palmerah, Jakarta, Selasa, 10 September 2019. Tempo/Bintari Rahmanita

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro (kanan) bersama jajarannya, saat berkunjung di kantor Redaksi Tempo Palmerah, Jakarta, Selasa, 10 September 2019. Tempo/Bintari Rahmanita

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN) atau Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan pembangun ibu kota negara baru bisa menjadi salah satu cara menahan efek pelemahan global terhadap ekonomi domestik. Dia mengatakan pembangunan ibu kota baru bisa menjadi kebijakan countercylical pemerintah.

    "Sekarang ekonomi global lagi susah, terjadi resesi ekonomi. Tapi kalau kita cuma hanya spending itu malah makin sulit, karena itu kami melihat pembangunan ibu kota baru sebagai salah satu kebijakan countercylical," kata Bambang saat berkunjung ke kantor Tempo, Jakarta Selatan, Selasa 10 September 2019.

    Seperti diketahui ekonomi global saat ini tengah mengalami pelambatan. Hal ini terlihat dari sejumlah lembaga multilateral yang juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. Salah satunya dari lembaga International Monetary Fund (IMF) dari 3,6 persen menjadi 3,2 persen 2020.

    Kebijakan countercylical merupakan kebijakan yang melawan arus siklus bisnis. Saat terjadi resesi pemerintah biasa menerapkan kebijakan ekspansif berupa pelonggaran fiskal dan moneter. Lewat countercylical diharapkan bisa meningkatkan daya beli, sehingga menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

    Menurut Bambang, dengan adanya proyek pembangunan ibu kota, maka terdapat potensi masuknya yang lebih tinggi investasi. Selain itu, lewat proyek pembangunan ibu kota juga membuat pemerintah membelanjakan anggaran menjadi lebih tinggi, sehingga ikut mendorong perekonomian.

    "Dengan belanja lebih tinggi dan investasi, diharapkan daya beli tetap terjaga. Kalau pun slowdown itu ngga terlalu dalam," kata Bambang.

    Bambang menjelaskan, dengan kondisi demikian, kebijakan countercyclical bisa meredam efek negatif krisis dan pelemahan ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia. Khususnya perekonomian domestik dalam jangka pendek.

    Apalagi saat ini, kata Bambang Brodjonegoro, pelambatan ekonomi dunia sudah mulai dirasakan efeknya terhadap ekonomi domestik. Salah satunya terlihat lewat ekspor yang menurun akibat permintaan volume yang berkurang hingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.