Geely dan Daimler Tanam Investasi Garap Mobil Terbang

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembuat elektronik Jepang NEC Corporation mendemonstrasikan prototipe mobil terbang di Abiko, Prefektur Chiba, Jepang. Mobil terbang ini dirancang untuk penerbangan pengiriman barang tak berawak. NEC Corp/Reuters

    Pembuat elektronik Jepang NEC Corporation mendemonstrasikan prototipe mobil terbang di Abiko, Prefektur Chiba, Jepang. Mobil terbang ini dirancang untuk penerbangan pengiriman barang tak berawak. NEC Corp/Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Produsen mobil swasta China, Zhejiang Geely Holding Group, pada Senin mengumumkan untuk berpartisipasi menggarap mobil terbang. Geely ikut dalam putaran penggalangan dana untuk saham di pabrik pesawat terbang Jerman Volocopter.

    Geely dan pembuat mobil Jerman Daimler AG bergabung dengan putaran pendanaan Seri C Volocopter seharga 50 juta euro. Melalui pembiayaan, masing-masing dari kedua pihak mengakuisisi 10 persen saham di Volocopter.

    Dana baru akan digunakan untuk membawa taksi udara Volocity, Volocopter, ke peluncuran komersial dalam tiga tahun ketika Volocopter berharap untuk mendapatkan sertifikat komersial oleh Aviation Safety Authority (EASA) untuk kendaraan terbang listrik.

    Mobil terbang dua kursi dirancang dengan kecepatan terbang 110 km per jam dalam rentang tunggal 35 km, yang dapat diterapkan untuk perjalanan jarak pendek.

    Geely juga setuju untuk memasuki usaha patungan dengan Volocopter untuk membawa teknologi mobilitas udara perkotaan ke China, kata ketua perusahaan Li Shufu.

    Geely dengan merek mobil Geely dan Volvo telah membentuk kemitraan dengan Daimler AG untuk mengembangkan model listrik pintar di China. Investasi bersama di Volocopter adalah komitmen kerja sama baru kedua belah pihak.

    Kedua perusahaan mengumumkan pada Maret untuk mendirikan perusahaan patungan untuk mengoperasikan dan mengembangkan kendaraan premium-listrik untuk pasar global. Berkantor pusat di China, usaha patungan ini diharapkan akan selesai pada akhir 2019 dengan kedua perusahaan masing-masing memegang 50 persen saham.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.