Rupiah Menguat Didukung Sentimen Positif Eksternal dan Domestik

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

    Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar-bank di Jakarta pada Senin sore, 9 September 2019, ditutup menguat didukung sentimen positif eksternal dan domestik.

    Rupiah Senin sore ditutup menguat 66 poin atau 0,347 persen menjadi Rp 14.035 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.101 per dolar AS.

    Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan cadangan devisa Agustus yang meningkat membuktikan bahwa ekonomi pasca perang dagang dan Brexit masih cukup terkendali dan menjadi katalis positif bagi nilai tukar.

    "Dan ini merupakan kontribusi pemerintah dan Bank Indonesia yang terus bekerja sama guna mengendalikan pasar sehingga di masa negara lain terguncang ekonominya, Indonesia terus membaik ekonominya," ujar Ibrahim.

    Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2019 tercatat sebesar 126,4 miliar dolar AS, meningkat 500 juta dolar AS dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2019 sebesar 125,9 miliar dolar AS.

    Dari eksternal, negosiasi dagang antara AS dan Cina yang akan kembali digelar pertengahan bulan ini dan awal Oktober, serta adanya ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), akan menurunkan suku bunganya, menjadi sentimen positif bagi rupiah.

    Rupiah pada pagi hari dibuka menguat Rp 14.088 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp 14.030 per dolar AS hingga Rp 14.093 per dolar AS.

    Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin ini menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp 14.092 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 14.140 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.