Jokowi Kesal Investor Asing Batal Datang, Indef Sebut 2 Sebab Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pembunganan jalur rel Light Rail Transit telah mencapai 64,4 persen di wilayah Jabodetabek, di kawasan jalan HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Agustus 2019. PT Jakarta Propertindo (Jakpro) akan memperpanjang pembangunan fase II rel LRT ke Jakarta International Stadium diperkirakan menghabiskan anggaran sebesar Rp4,1 Triliun. TEMPO/Imam Sukamto

    Suasana pembunganan jalur rel Light Rail Transit telah mencapai 64,4 persen di wilayah Jabodetabek, di kawasan jalan HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Agustus 2019. PT Jakarta Propertindo (Jakpro) akan memperpanjang pembangunan fase II rel LRT ke Jakarta International Stadium diperkirakan menghabiskan anggaran sebesar Rp4,1 Triliun. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kekesalan Presiden Joko Widodo atau Jokowi soal investor asing yang batal datang menanamkan modalnya di Indonesia ditanggapi oleh peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho.

    Andry mengatakan setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan perusahaan asing masih enggan berinvestasi di Indonesia. Pertama, karena investor masih melihat mahalnya biaya untuk menanamkan modal di Tanah Air. 

    Biaya investasi yang mahal tersebut bisa dilihat dari biaya input produksi yang masih mahal. Biaya input tersebut, bisa dilihat dari harga energi yang masih mahal, harga dan aksesibilitas untuk mendapatkan bahan baku juga dinilai masih terbatas. 

    "Belum lagi biaya tenaga kerja juga tidak lebih murah dari negara ASEAN lainnya meskipun jumlahnya besar. Selain gaji juga variabel lainnya yang masih belum bisa fleksibel, seperti pesangon," kata Andry ketika dihubungi Tempo, Senin 9 September 2019. 

    Andry melanjutkan, investasi asal Cina yang enggan datang ke Indonesia karena investor memiliki penilaian soal produk yang bisa tembus ke pasar Amerika Serikat. Dalam hal ini, investasi langsung atau foreign direct investment asal Cina memiliki karakteristik untuk membentuk diversion trade supaya produk tetap kompetitif.

    "Syaratnya, tentu negara tujuan investasinya adalah masih menawarkan harga input yang rendah dan tersedianya sumberdaya," kata Andry.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.