Rebutan Investor Asing, CSIS: Kita Harus Kerja Keras 2 Kali Lipat

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sister Province Berpeluang Dongkrak Investasi Asing di Jawa Barat

    Sister Province Berpeluang Dongkrak Investasi Asing di Jawa Barat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan saat ini di tengah perlambatan ekonomi dunia, porsi investasi langsung atau foreign direct investment ikut tumbuh melambat. Sementara itu, ada banyak negara yang mengincar FDI atau investasi asing masuk ke negara mereka.

    "Saat ini banyak negara lebih baik menjadi tujuan, artinya, kompetisi persaingan semakin ketat," kata Yose saat dihubungi Bisnis.com, Minggu 8 September 2019.

    Presiden Jokowi sempat berang karena mayoritas perusahaan-perusahaan Cina yang melakukan ekspansi ke Asia Tenggara, lebih memilih ke Vietnam, Malaysia, Thailand dan Kamboja. 

    Alhasil keberhasilan Indonesia naik peringkat dalam indeks Easy of Doing Business (EoDB), tidak relevan menjadi catatan prestasi dibandingkan dengan konteks perekonomian saat ini.

    "Ketidakpastian global membuat persaingan ini kian ketat. Maka Indonesia harus kerja keras dua kali lipat memperbaiki iklim investasi," ungkap Yose.

    Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakinkan para investor Jepang saat ini adalah kesempatan yang baik berinvestasi di Indonesia.

    Hal tersebut disampaikan Perry dalam pertemuan dengan para pelaku pasar keuangan dan investor di Tokyo pada Jumat 6 September 2019.

    Perry menyebut tiga alasan utama yang investasi di tanah air kepada investor Jepang.

    Pertama, kondisi Indonesia masih tetap stabil di tengah berbagai tantangan perekonomian global. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif dan stabilitas sistem keuangan yang terjaga.

    Kedua, komitmen kuat pemerintah untuk mengakselerasi reformasi struktural, termasuk di infrastruktur, industri, fiskal, hingga ekonomi dan keuangan digital.

    Ketiga, komitmen Bank Indonesia untuk berkontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia melalui bauran kebijakan.

    Pasalnya, pertemuan dengan pelaku pasar di Jepang tersebut merupakan rangkaian dari kunjungan Gubernur Bank Indonesia ke Tokyo dalam rangka pengukuhan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tokyo, Causa Iman Karana.

    Upacara pengukuhan dihadiri pula oleh para tokoh dan stakeholders utama Bank Indonesia di Jepang, antara lain Bank of Japan, Financial Service Agency, International Monetary Fund, Asian Development Bank Institute, International University of Japan, SMBC Nikko Securities, SMBC Bank, MUFG Bank, dan Nomura Securities.

    Dalam kesempatan di Tokyo, Gubernur Bank Indonesia juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Bank of Japan (BoJ), Haruhiko Kuroda, untuk berdiskusi mengenai kebijakan bank sentral, khususnya bauran kebijakan, di tengah dinamika ekonomi yang terjadi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.