Gubernur BI Undang Investor Jepang Tanamkan Modal di Indonesia

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan sambutan dalam konferensi internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-13 di Bali, Kamis, 29 Agustus 2019. Istimewa

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan sambutan dalam konferensi internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-13 di Bali, Kamis, 29 Agustus 2019. Istimewa

    TEMPO.CO, Tokyo - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di hadapan para pelaku pasar keuangan dan investor Jepang di Tokyo menyatakan saat ini adalah waktu yang baik untuk berinvestasi. Setidaknya ada tiga alasan utama untuk menanamkan modal di Indonesia yang disampaikan Perry kepada investor Jepang.

    Pertama, kata Perry, karena kondisi Indonesia masih tetap stabil di tengah berbagai tantangan perekonomian global. "Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif dan stabilitas sistem keuangan yang terjaga," ujarnya seperti dikutip dari laman Bank Indonesia, Jumat, 6 September 2019.

    Alasan kedua adalah komitmen kuat Pemerintah untuk mengakselerasi reformasi struktural, termasuk di infrastruktur, industri, fiskal, hingga ekonomi dan keuangan digital. Sementara alasan ketiga adalah komitmen Bank Indonesia untuk berkontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia melalui bauran kebijakan.

    Pertemuan Gubernur Indonesia dengan pelaku pasar di Jepang tersebut merupakan rangkaian kunjungan Perry Warjiyo ke Tokyo dalam rangka pengukuhan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tokyo, Causa Iman Karana.

    Upacara pengukuhan dihadiri para tokoh dan stakeholders utama Bank Indonesia di Jepang, antara lain Bank of Japan, Financial Service Agency, International Monetary Fund, Asian Development Bank Institute, International University of Japan, SMBC Nikko Securities, SMBC Bank, MUFG Bank, dan Nomura Securities.

    Di Tokyo, Gubernur Bank Indonesia juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda. Keduanya berdiskusi mengenai kebijakan bank sentral, khususnya bauran kebijakan, di tengah dinamika ekonomi yang terjadi. Gubernur BI juga menyerahkan buku “Central Bank Policy: Theory and Practice” yang ditulisnya kepada Gubernur Kuroda sebagai tanda mata.

    Sebelumnya Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengeluhkan rumitnya mengurus perizinan di Indonesia sehingga membuat investor memilih negara tetangga. Dalam rapat terbatas yang digelar siang ini, Rabu lalu, 4 September 2019 di Kantor Presiden, Jakarta, Jokowi mengingatkan perkembangan perekonomian dunia yang melambat.

    "Kita tahu pertumbuhan ekonomi global telah mengalami perlambatan dan kemungkinan terjadinya resesi itu semakin besar. Oleh sebab itu, payung harus kita siapkan. Kalau hujannya besar biar kita enggak kehujanan, gerimis enggak kehujanan," kata Jokowi.

    Menurut Jokowi, salah satu jalan paling cepat untuk mengantisipasi pelemahan ekonomi global adalah yang berkaitan dengan foreign direct investment (FDI) atau investasi asing langsung. Ia pun meminta seluruh kementerian yang berkaitan dengan ekonomi mulai menginventarisir regulasi-regulasi yang menghambat. "Regulasi-regulasi yang membuat kita lamban betul-betul mulai diinventarisir," kata dia.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.