Pedagang Sinyal di Perbatasan Bisa Raup Omzet Rp 500 Ribu Sehari

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Telkomsel turut mensukseskan kegiatan Digitalisasi Perbatasan di Nunukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Foto istimewa

    Telkomsel turut mensukseskan kegiatan Digitalisasi Perbatasan di Nunukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Foto istimewa

    Tempo.Co, Nunukan - Sulitnya akses internet di Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, memberi berkah tersendiri kepada para pedagang voucher WiFi. Dagangan mereka laris manis hampir setiap harinya dibeli warga yang hendak berkomunikasi menggunakan internet.

    Lestari, pengurus penginapan Maranatha, mengatakan setiap harinya pemasukan dari penjualan voucher WiFi terbilang lumayan. "Sehari dari voucher saja bisa Rp 500.000 omzetnya," ujar dia saat berbincang dengan Tempo di penginapannya di Jalan Pembangunan, Desa Long Bawan, Jumat, 30 Agustus 2019. Bila dihitung selama 30 hari, omzetnya bisa mencapai Rp 15 juta per bulan. 

    Angka yang disebutkan Lestari itu adalah omzet rata-rata per hari, belum menghitung bila penginapannya ramai diinapi pengunjung. Kalau sedang ramai penginap, omzet harian itu bisa lebih tinggi. Adapun sinyal WiFi itu, ujar Lestari, disediakan oleh provider Sinyalku besutan Ubiqu.

    Tempo menyambangi penginapan tersebut kala bertandang ke desa yang berbatasan langsung dengan wilayah Serawak, Malaysia itu. Tampak sebuah spanduk di depan rumah bertuliskan 'Sekarang sudah bisa pakai internet, sinyal WiFi internet ada di daerah ini'.

    Menyediakan sebuah tenda dan dua buah meja kayu, serta beberapa unit kursi plastik, para pencari sinyal bisa langsung nongkrong di halaman penginapan tersebut. Selain menyediakan paket internet, Lestari juga menyiapkan panganan seperti Mi Maggie alias mi instan asal Malaysia. Produk itu memang cukup lazim ditemukan di desa perbatasan Indonesia - Malaysia tersebut. Dari Long Bawan, perbatasan bisa dicapai dengan waktu sekitar 20 menit dengan berkendara.

    Saat tiba di sana, Tempo langsung ditawari paket WiFi dengan harga yang berbeda-beda tergantung kepada besar kuotanya. Paket paling murah dibanderol Rp 20 ribu dengan kuota 120 megabyte. Pilihan lainnya adalah Rp 30 ribu untuk kuota 250 megabyte dan Rp 60 ribu untuk kuota 500 ribu megabyte. Yang termahal adalah paket internet 1 gigabyte yang dihargai Rp 120 ribu. Meski harganya relatif tinggi, Lestari mengatakan jaringan internet itu kadangkala gangguan apabila cuaca kurang mendukung, misalnya hujan deras.

    Tempo menjajal paket internet itu dengan membeli paket 120 megabyte. Dengan paket itu, Tempo berhasil tersambung kembali ke internet setelah hampir seharian fakir koneksi. Meskipun jaringan sudah terhubung dengan 3G namun koneksi internet memang sulit diperoleh di Long Bawan. Di perbatasan, internet relatif lebih mudah didapat hanya di titik tertentu, selain di warung internet dan penginapan. Misalnya saja di sekolah atau di kantor kecamatan.

    Pegawai Kecamatan Krayan Naftali berujar masyarakat memang kesulitan mengakses internet. Satu-satunya andalan masyarakat untuk bisa mendapat internet adalah dengan membeli paket wifi. "Kalau internet tidak bisa kecuali pakai wifi," ujar dia

    Namun, di samping biayanya yang dinilai menguras kantong, jaringan di sini pun sering ngadat alias gangguan. Apalagi kalau penggunanya sedang banyak, tuturnya, internet semakin lambat. Karena itu, ia mengaku tidak sering menggunakan internet. "Tergantung kebutuhan, bisa Rp 25 ribu, tapi kuotanya juga cepat habis. Lalu beli lagi. Kalau semakin banyak buka, ya kita akan bayar terus. Itu faktanya," ujar Naftali.

    Salah seorang staf Telkomsel yang Tempo temui di Krayan mengatakan  mahalnya internet di desa yang berjarak 20 menit dari perbatasan Indonesia - Malaysia itu, disebabkan koneksi internet di sana mesti menggunakan satelit. Berbeda dengan di kota yang bisa menggunakan optik fiber atau radio IP. Adapun BTS yang tersedia di sekitar Long Bawan pun dinilai masih di bawah kebutuhan.

    Salah seorang pelajar SMAN 1 Krayan, Hasan Andika, juga mengeluhkan sulitnya akses internet di sana. "Harganya mahal, Rp 20 ribu itu hanya berapa menit," ujar Hasan. Ia mengaku mesti merogoh kocek hingga Rp 50 ribu kalau mau berinteraksi di sosial media. Meskipun, ia merasa saluran telepon dan SMS cukup bagus.

    Ia berharap akses internet bisa lebih bagus di kemudian hari. Salah satunya, agar pelajar bisa mengakses informasi lebih banyak lagi. "Karena kalau nyari tugas enggak ada di buku ya pakai internet."

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan pemerintah terus menyosialisasikan penggunaan internet yang baik kepada masyarakat, salah satunya di perbatasan. Ia mengatakan pemerintah terus membangun jaringan internet di sana sehingga nantinya bisa dimanfaatkan misalnya untuk pendidikan.

    Pada kunjungannya ke Krayan, ia sempat melihat demonstrasi pengajaran bahasa inggris di kelas melalui videoconference. Dengan metode itu ia berharap masyarakat di perbatasan juga bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dengan para siswa di kota.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.